- Pemerintah berhasil menurunkan prevalensi stunting Indonesia dari lebih 30 persen menjadi di bawah 20 persen.
- Indonesia masih menghadapi tantangan triple burden of malnutrition yang meliputi kekurangan gizi, anemia, dan obesitas.
- Andrew F. Saputro menyatakan kualitas gizi sejak usia dini sangat menentukan daya saing sumber daya manusia.
Suara.com - Pemerintah dinilai berhasil menurunkan prevalensi stunting dalam satu dekade terakhir. Namun, persoalan gizi di Indonesia belum sepenuhnya selesai. Di balik penurunan angka stunting, Indonesia masih menghadapi tantangan yang lebih kompleks berupa triple burden of malnutrition, yaitu beban gizi rangkap yang mencakup kekurangan gizi, kekurangan zat gizi mikro, dan obesitas.
Corporate Affairs Director Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya memperbaiki gizi masyarakat tidak cukup hanya memastikan anak mendapat makanan yang cukup, tetapi juga harus memperhatikan kualitas asupan yang dikonsumsi.
"Masalah gizi itu bukan sekadar bagaimana kita menuntaskan dengan makan yang cukup. Bukan cuma dikasih makan, tetapi makan yang seperti apa, minuman yang seperti apa. Harus aman, berkualitas, dan tentu saja terjangkau," ujar Andrew dalam podcast Tiga Dara bersama Suara.com beberapa waktu lalu.
Menurutnya, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting Indonesia telah turun dari kisaran lebih dari 30 persen menjadi di bawah 20 persen.
Artinya, jika sebelumnya satu dari tiga anak mengalami stunting, kini angkanya mendekati satu dari lima anak.
Andrew menyebut capaian tersebut patut diapresiasi. Bahkan, berdasarkan data yang diterimanya dari Kementerian Kesehatan, posisi Indonesia kini dinilai lebih baik dibanding beberapa negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam.
Meski demikian, dengan jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar, satu dari lima anak tetap berarti jutaan anak masih menghadapi masalah gizi.
"Skala Indonesia sangat besar. Jadi satu dari lima anak tetap jumlahnya masih sangat banyak," katanya.
Triple Burden Masih Mengintai
Baca Juga: Meki Nawipa Luncurkan Program Bangkit Papua Tengah, Fokus Cetak Generasi Unggul
Andrew menjelaskan, hasil Southeast Asian Nutrition Survey (SEANUTS) yang dilakukan FrieslandCampina juga menemukan pola yang sejalan dengan data pemerintah.
Selain stunting, Indonesia menghadapi persoalan hidden hunger atau kelaparan tersembunyi akibat kekurangan mikronutrien.
Masalah yang paling banyak ditemukan adalah anemia akibat kekurangan zat besi.
"Yang paling banyak di Indonesia itu anemia. Ini jangan dianggap sepele karena nanti ketika anak tumbuh menjadi remaja, khususnya perempuan, kemudian hamil dalam kondisi anemia, risikonya akan berpengaruh terhadap kualitas kehamilan dan tumbuh kembang anak," jelasnya.
Selain anemia, Indonesia juga mulai menghadapi peningkatan obesitas, terutama di wilayah perkotaan.
Menurut Andrew, distribusi ketiga masalah tersebut berbeda-beda.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan