Eropa di Ambang Perang? Negara-negara NATO Siaga Satu Hadapi Ancaman Rusia

Minggu, 20 September 2026 | 09:11 WIB
Vladimir Putin [Xinhua]
BACA 10 DETIK
  • Berbagai negara Eropa meningkatkan kesiapan militer dan sipil untuk mengantisipasi potensi eskalasi ancaman serta operasi hibrida dari Rusia terhadap anggota NATO.
  • Pemerintah di kawasan Eropa mengambil langkah antisipatif seperti memperkuat infrastruktur, menyiapkan rumah sakit darurat, memperbarui evakuasi, dan memperketat pertahanan udara di perbatasan.
  • Peningkatan kewaspadaan ini merespons lonjakan insiden hibrida, peringatan intelijen, serta perang berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina sejak Februari 2022.

Suara.com - Pemerintah di berbagai negara Eropa saat ini tengah meningkatkan kesiapan militer dan sipil secara signifikan mengantisipasi kemungkinan eskalasi dari pihak Rusia. Langkah kewaspadaan ini diambil menyusul peringatan keras dari sejumlah pejabat berwenang bahwa Moskow berpotensi mengintensifkan operasi sabotase, siber, rudal, dan drone terhadap negara-negara anggota NATO yang selama ini memberikan dukungan kepada Ukraina.

Kekhawatiran yang semakin memuncak ini telah memicu gelombang persiapan di seluruh benua biru. Berbagai langkah antisipatif mulai diterapkan, mulai dari rancangan perlindungan infrastruktur vital di Prancis, persiapan fasilitas rumah sakit darurat di Jerman, pembaruan prosedur evakuasi warga sipil di Lituania, hingga peningkatan sistem pertahanan udara di perbatasan Polandia.

Rusia dan Ukraina sendiri telah terjebak dalam perang berkepanjangan sejak Moskow melancarkan invasi skala penuh ke negara tetangganya tersebut pada Februari 2022. Sejak saat itu, negara-negara NATO terus memasok dukungan militer dan finansial yang masif kepada Kyiv, meski tetap menahan diri untuk tidak terjun langsung ke medan pertempuran.

Di Paris, Presiden Prancis Emmanuel Macron pada hari Jumat lalu telah memanggil para pemimpin partai politik dan tokoh kandidat presiden ke ruang krisis Istana Elysee. Pertemuan tertutup tersebut ditujukan untuk memberikan paparan intelijen Prancis yang bersifat rahasia mengenai tantangan keamanan yang tengah dihadapi kawasan saat ini.

"Ancaman hibrida Rusia terhadap warga Eropa dan terhadap Prancis telah meningkat," ungkap Macron kepada jurnalis seusai pertemuan tersebut.

Macron juga secara terbuka mendukung peringatan yang dikeluarkan sehari sebelumnya oleh Perdana Menteri Polandia Donald Tusk. Tusk secara lugas menyebutkan bahwa Rusia bisa saja mengirimkan proyektil atau pesawat tak berawak ke wilayah NATO dalam beberapa bulan ke depan. Macron menilai asesmen dari pemimpin Polandia tersebut "masuk akal dan terdokumentasi dengan baik."

"Ada risiko nyata bahwa drone atau jenis proyektil lainnya akan memasuki wilayah satu atau beberapa negara di sayap timur dan bahkan menyebabkan kehancuran," tegas Tusk dalam peringatannya.

Polandia, yang berbatasan langsung dengan Ukraina dan sekutu Rusia, Belarusia, kini semakin mempercepat persiapan militernya. Pada hari Sabtu, militer Polandia meluncurkan operasi penerbangan preventif dan menyiagakan sistem pengintaian radar serta pertahanan udara berbasis darat pada tingkat kesiapan tertinggi, tepat saat Rusia melancarkan gelombang serangan ke Ukraina.

Langkah taktis ini diambil hanya berselang satu hari setelah Tusk mengumumkan bahwa Polandia resmi bergabung dalam koalisi pertahanan rudal anti-balistik bersama Ukraina dan sekutu Eropa lainnya.

"Mulai hari ini, Polandia adalah bagian dari proyek besar ini," ujar Tusk usai menghadiri pertemuan tingkat tinggi di wilayah barat Ukraina, dikutip dari Times of Israel.

Inisiatif pertahanan udara yang diumumkan oleh Ukraina dan sembilan negara Eropa pada bulan Juli lalu ini memuat rencana pengembangan sistem rudal anti-balistik secara mandiri. Langkah ini diharapkan mampu menyediakan alternatif perlindungan yang lebih ekonomis dibandingkan dengan sistem Patriot buatan Amerika Serikat.

Pengumuman ini bertepatan dengan pertemuan puncak perdana dari inisiatif regional baru bernama Carpathian Eight yang digagas oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Koalisi ini menyatukan Polandia, Rumania, Serbia, Slovakia, Republik Ceko, Austria, Hungaria, dan Uni Eropa untuk memperdalam kerja sama di sektor keamanan, energi, logistik, dan perdagangan.

"Tentu saja, masalah keamanan menjadi prioritas saat ini dan untuk tahun-tahun mendatang," tutur Zelensky dalam pidatonya.

Di kawasan Eropa lainnya, berbagai pemerintahan juga tengah merumuskan persiapan yang melampaui kesiapan militer garis depan. Berdasarkan laporan dari Bloomberg, Jerman saat ini sibuk mempersiapkan jaringan rumah sakitnya untuk menghadapi kemungkinan terburuk dari pecahnya konflik yang berpotensi memakan banyak korban massal.

Sementara itu, lembaga penyiaran publik Polish Radio melaporkan bahwa Lituania telah memperbarui rencana strategis untuk mengevakuasi penduduk sipil jika terjadi krisis sewaktu-waktu.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com