News / Nasional
Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:09 WIB
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, mendampingi 150 peneliti pilihan untuk bertemu dengan Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Negara, Kamis (6/8/2026). (Suara.com/Bagaskara)
Baca 10 detik
  • Kepala BRIN Arif Satria mendampingi 150 peneliti bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara.
  • BRIN memetakan tiga jalur utama riset untuk memperkuat struktur ekonomi menuju Indonesia Emas 2045.
  • BRIN menekankan pentingnya penguasaan teknologi semikonduktor dalam negeri agar Indonesia terbebas dari ketergantungan asing.

Suara.com - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, mendampingi 150 peneliti pilihan untuk bertemu dengan Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Negara.

Dalam pertemuan strategis tersebut, Arif menekankan pentingnya kedaulatan teknologi agar Indonesia tidak lagi bergantung pada komponen dari luar negeri, terutama sektor semikonduktor.

Dalam sambutannya di hadapan Presiden Prabowo, Arif Satria menegaskan, bahwa kemajuan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kapasitas risetnya. Ia mengaitkan inovasi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

"Bapak Presiden, Riset dan inovasi merupakan lokomotif pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sekaligus fondasi daya saing Indonesia di masa depan. Pengalaman berbagai negara menunjukkan adanya korelasi positif antara kapasitas inovasi, yang tercermin dalam Global Innovation Index, dengan GDP per kapita per tahun," ujar Arif.

Sebagai motor penggerak menuju visi Indonesia Emas 2045, Arif memaparkan bahwa BRIN telah memetakan tiga jalur utama untuk memperkuat struktur ekonomi nasional melalui ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Untuk itu, BRIN berupaya memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional. Dalam mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi dan Indonesia Emas 2045, kami mengembangkan tiga jalur utama. Pertama, menghadirkan inovasi untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing UMKM. Kedua, memperkuat daya saing industri nasional melalui riset dan inovasi. Ketiga, memfasilitasi co-development teknologi maju dunia agar Indonesia menjadi bagian dari pengembangan teknologi global," urainya.

Namun, poin yang menjadi sorotan utama dalam sambutan tersebut adalah keberanian Indonesia untuk mulai membangun kemandirian di sektor teknologi tingkat tinggi.

Arif menyatakan bahwa fokus riset ke depan akan diarahkan pada penguasaan teknologi yang menentukan posisi Indonesia di kancah global dalam jangka panjang.

Secara khusus, ia menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap pasokan chip dari luar negeri yang harus segera diatasi melalui penguatan industri semikonduktor dalam negeri.

Baca Juga: Skor PISA RI di Bawah Vietnam, Prabowo: Terima Sebagai Koreksi, Tapi Kita Jangan Terlalu Takut

"Bapak Presiden, BRIN akan berfokus pada teknologi-teknologi maju yang akan menentukan daya saing negara dalam dua hingga tiga dekade ke depan. Pertama, semikonduktor agar Indonesia tidak bergantung pada chip asing," tegas Arif.

Load More