News / Nasional
Rabu, 12 Agustus 2026 | 23:50 WIB
BAKTI Media Connect 2026. (Dok. ist)
Baca 10 detik
  • BAKTI Komdigi membangun akses internet di lebih dari 31.000 lokasi wilayah 3T untuk mendukung sektor pendidikan, kesehatan, pemerintahan, dan ekonomi.
  • Infrastruktur internet dimanfaatkan oleh sekolah dan puskesmas di Flores Timur untuk memperluas sumber pembelajaran serta mengoptimalkan sistem rujukan medis.
  • BAKTI mengelola infrastruktur strategis seperti SATRIA-1 dan BTS untuk membuka akses ekonomi masyarakat serta memperkuat layanan publik di daerah terpencil.

Pemanfaatan internet di daerah 3T juga mulai menyentuh aktivitas ekonomi. Kehadiran BTS BAKTI di sejumlah wilayah membantu mengurangi blank spot sekaligus membuka akses komunikasi bagi masyarakat dan pelaku usaha.

Hal tersebut terlihat di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Kehadiran BTS membantu masyarakat yang sebelumnya berada di wilayah tanpa sinyal untuk kembali terhubung.

Akses komunikasi yang lebih baik memberi ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memanfaatkan teknologi digital dalam menjalankan aktivitas ekonomi, termasuk memperluas komunikasi dengan pelanggan maupun mitra usaha.

BAKTI juga mendorong pemanfaatan konektivitas melalui program pemberdayaan ekosistem digital dan kemitraan BUMDes. Program tersebut mencakup pelatihan literasi digital, digitalisasi pariwisata, serta penguatan kemitraan BUMDesma.

Internet untuk Pelayanan Publik

Selain pendidikan dan kesehatan, akses internet BAKTI juga menyasar kantor pemerintahan dan pusat kegiatan masyarakat. Sekitar 19,9 persen lokasi yang telah terhubung merupakan kantor pemerintahan, pasar tradisional, tempat ibadah, pos pertahanan dan keamanan, lokasi usaha, hingga transportasi publik.

Konektivitas di kantor pemerintahan menjadi bagian dari upaya memperkuat layanan publik dan mendorong penerapan pemerintahan berbasis elektronik atau e-government.

Sementara itu, konektivitas di ruang publik membuka peluang masyarakat di daerah terpencil untuk memperoleh akses informasi dan layanan digital yang sebelumnya lebih sulit dijangkau.

Dari Pembangunan Infrastruktur Menuju Kemandirian

Baca Juga: Panduan Lengkap Susunan Upacara Hari Pramuka di Sekolah, Tertib dan Khidmat!

Untuk menopang konektivitas tersebut, BAKTI mengelola sejumlah infrastruktur strategis, mulai dari Satelit Republik Indonesia (SATRIA-1), Palapa Ring, hingga BTS.

SATRIA-1 dengan kapasitas 150 Gbps digunakan untuk menjangkau fasilitas publik seperti sekolah, puskesmas, kantor pemerintah daerah, hingga pos perbatasan. Sementara jaringan serat optik Palapa Ring membentang sepanjang 12.148 kilometer dan melayani 131 lokasi Network Operation Center (NOC) di 57 kabupaten/kota nonkomersial.

Program BAKTI Sinyal juga telah membangun BTS 4G dan BTS Universal Service Obligation (USO) di 6.747 titik lokasi 3T.

Namun, bagi BAKTI, keberhasilan pembangunan konektivitas bukan hanya diukur dari banyaknya infrastruktur yang berdiri. Keberlanjutan pemanfaatan dan kemampuan masyarakat untuk mandiri menjadi ukuran berikutnya.

Karena itu, BAKTI mulai menjalankan exit strategy sejak 2024. Wilayah yang dinilai telah mencapai tingkat kematangan tertentu akan ditawarkan kepada operator, vendor, tower provider, maupun mitra lainnya untuk mengambil alih pengelolaan.

"Keberhasilan pemerintah dalam Universal Service Obligation bukan diukur dari seberapa lama kami berada di sana, tetapi seberapa cepat kami bisa melakukan exit dari lokasi tersebut. Artinya, masyarakat sudah bisa mandiri," kata Fadhilah.

Model tersebut diharapkan membuat infrastruktur digital di daerah 3T tidak berhenti sebagai proyek pembangunan.

Setelah akses tersedia, internet diharapkan benar-benar digunakan untuk membuat sekolah lebih terhubung, layanan kesehatan lebih mudah dijangkau, pelayanan publik lebih efektif, dan ekonomi masyarakat bergerak.

Load More