News / Internasional
Kamis, 13 Agustus 2026 | 10:39 WIB
Krisis pengangguran sarjana di India memicu protes Gen Z hingga mendesak reformasi sistem ujian nasional. (Al Jazeera)
Baca 10 detik
  • Tingkat pengangguran sarjana India mencapai 40 persen hingga memicu aksi protes masif Gen Z.
  • Kebocoran soal ujian medis nasional menjadi pemantik amarah pemuda atas sulitnya mencari kerja.
  • Pemerintah India merombak sistem ujian dan memperketat sanksi pidana untuk meredam gejolak sosial.

Suara.com - Gelombang pengangguran sarjana hingga mencapai kisaran 40 persen memicu amarah besar Gen Z India terhadap rezim Perdana Menteri Narendra Modi. Kasus kebocoran soal ujian masuk kedokteran nasional menjadi pemantik aksi demonstrasi pemuda secara masif di berbagai kota.

Krisis ketenagakerjaan ini memukul kelompok usia 15 hingga 25 tahun di tengah minimnya lapangan kerja formal yang layak. Para lulusan perguruan tinggi kini mendominasi dua pertiga dari total penganggur di seluruh pelosok India.

Tekanan berat persaingan kerja membuat jutaan pemuda menggantungkan nasib pada ujian negara yang sangat ketat. Fenomena ini menciptakan keputusasaan massal hingga memicu gerakan protes pemuda bernama Cockroach Janta Party.

Krisis pengangguran sarjana di India memicu protes Gen Z hingga mendesak reformasi sistem ujian nasional. (Al Jazeera)

Pemerintah Modi kini menghadapi ujian politik terberat akibat kegagalan menyerap tenaga kerja terdidik ke sektor formal. Janji transformasi ekonomi yang diusung sejak awal menjabat dinilai belum mampu menyelesaikan masalah struktural ini.

Langkah pengamanan aparat yang menembakkan gas air mata ke arah demonstran justru makin membakar amarah para sarjana muda. Banyak profesional muda merasa penderitaan angkatan muda saat ini sudah melampaui batas kewajaran.

Mengapa Jutaan Gen Z India Begitu Berambisi Lolos Ujian Negara?

Persaingan memperebutkan kursi ujian medis NEET melonjak hingga 50 persen dengan total peserta melebihi 2,2 juta orang. Jalur ini dianggap sebagai salah satu dari sedikit jalan tersisa untuk memperoleh pekerjaan berpenghasilan stabil.

Krisis pengangguran sarjana di India memicu protes Gen Z hingga mendesak reformasi sistem ujian nasional. (Al Jazeera)

Seorang profesional asal Mumbai berusia 27 tahun, Abheet Mohanty, mengungkapkan kekecewaannya saat menyaksikan tindakan keras polisi terhadap para mahasiswa. Ia pernah merasakan langsung beratnya tekanan mental saat gagal menembus tes medis tersebut pada tahun 2018.

"Saya bisa merasakan apa yang dialami para siswa itu karena saya sendiri pernah menjadi siswa NEET pada tahun 2018," ujar Mohanty kepada CNBC.

Baca Juga: Bukan Sekadar Ikut Tren: Memaknai Kemerdekaan Digital Gen Z di Tengah Gempuran FOMO

Kegagalan tersebut memaksa Mohanty beralih mengambil jurusan komunikasi hingga akhirnya memperoleh pekerjaan dengan gaji bulanan 20.000 rupee. Namun, orang tuanya menganggap jumlah pendapatan tersebut sama sekali tidak mencukupi untuk hidup di Mumbai.

“Sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan,” ujar Mohanty.

Krisis pengangguran sarjana di India memicu protes Gen Z hingga mendesak reformasi sistem ujian nasional. (Al Jazeera)

Bagaimana Kondisi Riil Pasar Kerja Bagi Lulusan Perguruan Tinggi di India?

Keluhan serupa dirasakan oleh Aditi Garg, seorang desainer grafis berusia 24 tahun yang bekerja di pusat teknologi Bengaluru. Ia menyebut persaingan kerja yang terlampau ketat membuat banyak perusahaan memberikan penawaran gaji sangat rendah.

"Saya sudah tidak ingat lagi berapa banyak pekerjaan yang saya lamar tahun lalu," kata Garg kepada CNBC.

Garg menambahkan bahwa angkatan mudanya berada dalam posisi bargaining yang sangat lemah saat bernegosiasi gaji. Ketiadaan pilihan membuat banyak pencari kerja terpaksa menerima upah murah asal bisa bertahan hidup.

Load More