Suara.com - Dari atas permukaan laut, hamparan alga yang mengapung mungkin hanya terlihat seperti noda kecil di antara luasnya lautan. Namun, jika dikumpulkan dari ribuan hingga jutaan gambar, pola yang terbentuk mulai terlihat.
Dengan bantuan kecerdasan buatan (AI), ilmuwan kini dapat memetakan perubahan tersebut dalam skala global. Hasilnya menunjukkan hamparan alga terapung telah terdeteksi di wilayah laut yang sangat luas dan beberapa kelompok alga mengalami peningkatan dalam dua dekade terakhir.
Temuan tersebut berasal dari penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Communications. Peneliti menggunakan sekitar 1,2 juta citra satelit yang dikumpulkan sepanjang 2003 hingga 2022 untuk memetakan keberadaan alga terapung di laut dunia.
Para peneliti menggunakan AI untuk mengenali dan mengelompokkan alga yang terlihat dalam citra satelit. Mereka membaginya menjadi dua kelompok utama: makroalga, seperti Sargassum dan Ulva, serta mikroalga yang dapat membentuk lapisan di permukaan laut.
Hasil pemetaan menunjukkan wilayah kumulatif tempat alga terapung terdeteksi mencapai sekitar 43,8 juta kilometer persegi.
Luas tersebut setara dengan sekitar 12 persen permukaan laut global.
Namun, peningkatannya tidak terjadi secara merata. Makroalga di wilayah Atlantik tropis dan Pasifik barat, misalnya, mengalami ekspansi sekitar 13,4 persen per tahun sejak 2003. Sementara hamparan mikroalga meningkat sekitar 1% per tahun.
Bagi para peneliti, perubahan tersebut menunjukkan perlunya pemantauan lebih dekat terhadap kondisi ekosistem laut.
Ketika nutrien membuat alga tumbuh berlebihan
Baca Juga: Rimini Govern for AI, Solusi Tata Kelola Agen AI Korporasi
Pertumbuhan alga sebenarnya merupakan bagian normal dari ekosistem laut. Alga menjadi salah satu dasar rantai makanan dan menyediakan sumber energi bagi berbagai organisme.
Masalah dapat muncul ketika pertumbuhannya berlangsung secara berlebihan. Salah satu faktor yang diduga berperan adalah eutrofikasi, yaitu kondisi ketika perairan menerima terlalu banyak nutrien, terutama nitrogen dan fosfor.
Nutrien tersebut dapat berasal dari aktivitas manusia dan masuk ke perairan melalui berbagai jalur. Dalam jumlah berlebih, nutrien dapat memicu pertumbuhan alga secara cepat.
Pemanasan laut juga disebut sebagai salah satu faktor yang mungkin berkontribusi terhadap perubahan pola pertumbuhan alga.
Tidak semua ledakan pertumbuhan alga berbahaya. Namun, beberapa jenis dapat menghasilkan racun yang membahayakan organisme laut dan manusia.
Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) menyebut harmful algal blooms atau ledakan alga berbahaya dapat berdampak terhadap kesehatan manusia, satwa, ekosistem, serta perekonomian masyarakat pesisir.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
Pilihan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
Terkini
-
Dibantu Warga, Kemenhut Berhasil Tangkap Harimau Sumatera Dekat Sekolah di Agam
-
Ada Apa dengan Garuda Indonesia, Reza Aulia Diberhentikan Sementara dari Direksi
-
Cushion Instaperfect untuk Kulit Apa? Kenali 2 Varian dan Perbedaannya
-
AI Bantu Ilmuwan Petakan Hamparan Alga yang Makin Meluas di Laut Dunia, Bagaimana Caranya?
-
Sunblock Badan yang Bagus SPF Berapa? Ini Panduan agar Kulit Terlindungi Maksimal
-
Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Bikin Vietnam Waspada, Kim Sang-sik Punya Rencana Khusus
-
Subsidi LPG 3 Kg Makin Diperketat, Beli Gas Melon Bakal Pakai NIK
-
Jangan Cuma Andalkan APBD! Ini Strategi Media Lokal Hadapi Badai Efisiensi
-
Desil Tidak Sesuai? Ini Cara Ubah Data DTKS dan DTSEN Agar Dapat Bansos
-
The End of Oak Street Pamer Dinosaurus Sampai Misterinya Lupa Dikupas