Harga Minyak Stabil di Tengah Eskalasi Serangan di Jalur Pelayaran Timur Tengah

Kamis, 13 Agustus 2026 | 07:05 WIB
Ilustrasi lokasi Laut Merah dan Selat Hormuz (Gemini AI)
  • Harga minyak mentah dunia stabil pada Kamis, 13 Agustus 2026, di tengah konflik Laut Merah.
  • Kelompok Houthi menyerang kapal kargo di Selat Bab el-Mandeb, menewaskan enam orang korban jiwa.
  • Serangan tersebut memicu kekhawatiran pasokan, membuat harga minyak Brent dan WTI naik tipis.

Suara.com - Harga minyak mentah dunia bergerak stabil pada perdagangan Kamis (13/8/2026). Pergerakan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran atas keselamatan jalur pelayaran global, menyusul serangkaian serangan mematikan terhadap kapal niaga di Laut Merah dan Teluk Oman.

Mengutip CNBC, harga minyak mentah berjangka Brent naik tipis 7 sen menjadi 88,98 dolar AS per barel. Tren serupa terjadi pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS yang juga menguat 7 sen ke level 83,27 dolar AS per barel.

Eskalasi ketegangan meningkat setelah kelompok militan Houthi yang disokong Iran, melancarkan serangan terhadap kapal kargo di Selat Bab el-Mandeb pada Selasa. 

Insiden tersebut menewaskan enam orang dan menjadi fatalitas pertama dalam serangan pelayaran di Laut Merah dalam lebih dari satu tahun terakhir. 

Beberapa jam kemudian, pasukan AS menembakkan rudal ke arah kapal kontainer yang diduga mencoba menerobos blokade Washington terhadap pelabuhan Iran di Teluk Oman.

Rangkaian insiden ini mempertegas meluasnya dampak konflik Timur Tengah yang telah berlangsung hampir enam bulan terhadap dua jalur pelayaran vital dunia, di tengah berjalannya upaya diplomasi untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Iran memperingatkan bahwa harga minyak dunia akan Selat Hormuz yang berada di antara Iran, Qatar dan Uni Emirat Arab. [Google Maps]

Ekonom Senior Interactive Brokers, José Torres, menilai pasar minyak masih dibayangi kecemasan gangguan pasokan dari kawasan tersebut, meskipun muncul sinyal kemajuan negosiasi antara AS dan Iran. 

Kendati Pakistan optimistis kedua negara akan mencapai kesepakatan terkait Selat Hormuz, para pelaku pasar masih menunggu bukti konkret sebelum harga dan respons pasar keuangan berbalik secara signifikan.

Menurut Torres, investor telah menanti kejelasan kesepakatan tersebut selama beberapa pekan terakhir, dan kemajuan nyata sangat diperlukan untuk menekan imbal hasil (yield) serta mendorong reli pasar saham.

 Ia menambahkan, penguatan tipis harga minyak menjadi indikasi bahwa kecemasan gangguan pasokan akibat konflik kawasan belum sepenuhnya reda.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com