News / Nasional
Jum'at, 14 Agustus 2026 | 19:54 WIB
ilustrasi siswa SD (gemini)
Baca 10 detik
  • Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menilai rencana Presiden Prabowo mengajarkan bahasa asing sejak kelas satu sekolah dasar sebagai gagasan yang baik.
  • Hetifah mengingatkan pemerintah harus menyiapkan ketersediaan guru yang memadai serta fasilitas pendukung lainnya sebelum kebijakan pembelajaran bahasa asing tersebut diterapkan secara nyata.
  • Keberhasilan kebijakan pembelajaran bahasa asing di sekolah dasar ditentukan oleh kesiapan ekosistem pembelajaran yang lengkap dan memadai bagi para siswa.

Suara.com - Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menilai rencana Presiden Prabowo Subianto mengajarkan bahasa asing sejak kelas 1 SD menjadi gagasan yang baik. Namun di sisi lain juga pemerintah harus menyiapkan guru dan fasilitas pendukung sebelum kebijakan tersebut diterapkan.

Hetifah Sjaifudian mengingatkan, persoalan tenaga pengajar justru dapat menjadi tantangan besar jika pembelajaran bahasa asing diperluas sejak sekolah dasar.

"Yang hati-hati lagi tentu saja ketersediaan guru. Jangankan bahasa asing, tentu saja bahasa daerah pun banyak yang punah saat ini karena penuturnya tidak ada," kata Hetifah usai Sidang Tahunan MPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Menurut dia, pembelajaran bahasa asing relatif lebih mudah didukung karena sumber belajar kini tersedia luas, termasuk melalui teknologi kecerdasan buatan atau AI.

Namun, Hetifah menekankan teknologi tidak berarti menghilangkan kebutuhan terhadap guru. Menurutnya, anak tetap membutuhkan guru yang dapat berinteraksi secara langsung dan mengarahkan proses belajar bahasa.

"Seorang guru yang juga bertatap muka dengan anak untuk mengarahkan bagaimana mereka belajar bahasa, itu tetap penting," katanya.

Karena itu, dia meminta rencana pembelajaran bahasa asing sejak kelas 1 SD tidak berhenti sebagai gagasan. Pemerintah perlu menerjemahkannya ke dalam program yang jelas sekaligus memastikan kesiapan perangkat pendukung.

"Jadi harus disertai dengan gurunya dan fasilitas lainnya seperti tadi, tentunya ya mungkin lab bahasanya dan sebagainya," ujar Hetifah.

Hetifah menilai rencana tersebut membutuhkan persiapan secara simultan. Bukan hanya menentukan bahasa apa yang akan diajarkan, tetapi juga memastikan sekolah memiliki tenaga pengajar dan fasilitas yang memadai.

Baca Juga: Prabowo: Prabowonomics Sebenarnya Marhaenisme, PDIP Sulit Tak Mendukung

"Jadi itu satu ide yang bagus tapi nanti harus diterjemahkan ke dalam bentuk program dan juga ketersediaan perangkat, sarana prasarana, dan guru-gurunya secara simultan," tuturnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan rencana agar pembelajaran bahasa asing mulai diberikan kepada anak-anak sejak kelas 1 SD. Dalam pidatonya, Prabowo menyebut sejumlah bahasa asing yang dinilai penting, termasuk Inggris, Mandarin, Arab, Jepang, Korea, Spanyol, Prancis, hingga Rusia.

Bagi Hetifah, keberhasilan kebijakan tersebut pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak bahasa yang ditawarkan kepada siswa, tetapi juga apakah sekolah memiliki ekosistem pembelajaran yang memungkinkan anak benar-benar menguasainya.

Load More