Kasus Marissa Anita, Saat Sebuah Foto Dibaca sebagai Simbol Kedekatan dengan Kekuasaan

Selasa, 25 Agustus 2026 | 07:00 WIB
Ilustrasi Berfoto bersama Penguasa yang Dibaca sebagai Keberpihakan. (Suara.com/Syahda)
  • Marissa Anita dan kru Pancatera dikritik warganet karena berfoto bersama Presiden Prabowo di Istana Negara saat HUT ke-81 RI.
  • Unggahan foto tersebut memicu kekecewaan karena dianggap merusak citra independen dan kritis yang dibangun melalui platform In Her View.
  • Menanggapi polemik tersebut, Marissa Anita dan pihak Pancatera menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui media sosial.

Suara.com - Perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia di Istana Negara pada 17 Agustus 2026 menyisakan perbincangan yang cukup ramai di media sosial. Kali ini, sorotan publik bukan tertuju pada jalannya upacara, melainkan pada sebuah foto yang memperlihatkan Marissa Anita bersama rekan-rekannya dari Pancatera berpose dengan Presiden Prabowo Subianto dan putranya, Didit Hediprasetyo.

Sekilas, foto tersebut mungkin terlihat sebagai dokumentasi biasa dari para tamu yang hadir dalam perayaan kenegaraan. Namun, unggahan tersebut justru memicu kritik dari sebagian warganet.

Persoalannya bukan semata soal kehadiran di Istana. Bagi sebagian audiens, foto tersebut dianggap bertabrakan dengan citra independen dan kritis yang selama ini melekat pada In Her View, program yang dibawakan Marissa Anita bersama Pancatera.

Lantas, mengapa sebuah foto bersama Presiden bisa memunculkan respons sedemikian besar? Apakah kehadiran di acara kenegaraan otomatis berarti keberpihakan politik? Atau, ada persoalan lain yang membuat publik membaca foto tersebut secara berbeda?

Untuk memahami polemik ini, ada beberapa hal yang perlu dilihat.

Mengenal Marissa Anita dan In Her View

Marissa Anita dikenal sebagai jurnalis sekaligus aktris yang telah lama berkecimpung di dunia media dan seni peran. Pengalamannya di berbagai media nasional maupun internasional turut membentuk citranya sebagai sosok yang kritis dan reflektif.

Marissa merupakan salah satu sosok di balik In Her View, sebuah platform yang banyak mengangkat perspektif perempuan dan isu-isu sosial.

Topik yang dibahas cukup beragam, mulai dari kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan, kesehatan sosial, hingga pengalaman personal perempuan dalam menghadapi berbagai persoalan di masyarakat.

Selama ini, In Her View juga membangun positioning sebagai ruang percakapan yang berani mengangkat isu sosial dari sudut pandang yang kritis dan berbeda.

Citra tersebut kemudian membentuk ekspektasi tertentu di kalangan audiens. Mereka tidak hanya mengikuti program karena kontennya, tetapi juga karena nilai dan perspektif yang dianggap merepresentasikan karakter platform tersebut.

Foto Bareng Presiden Prabowo, Marissa Anita Diingatkan Soal Widji Thukul [Tangkap layar X]

Mengapa Foto Bersama Presiden Dipersoalkan?

Kritik mulai bermunculan setelah foto Marissa dan rekan-rekannya bersama Prabowo beredar di media sosial.

Bagi sebagian warganet, kehadiran figur yang selama ini dianggap membawa suara kritis di ruang publik dalam sebuah acara resmi di Istana dipandang menimbulkan pertanyaan mengenai independensi.

Sebagian lainnya bahkan mengaitkan foto tersebut dengan citra Marissa ketika memerankan tokoh Sipon, istri aktivis dan penyair Wiji Thukul, dalam film Istirahatlah Kata-Kata.

Film garapan Yosep Anggi Noen yang dirilis pada 2017 tersebut mengangkat kisah Wiji Thukul, aktivis yang hingga kini dikenal sebagai salah satu korban penghilangan paksa.

Marissa memerankan tokoh Sipon, sedangkan Wiji Thukul diperankan Gunawan Maryanto.

Di media sosial, sejumlah warganet kemudian menyandingkan foto Marissa bersama Prabowo di Istana dengan foto ketika dirinya memerankan Sipon.

Ada pula komentar yang mempertanyakan keputusan Marissa menghadiri acara tersebut dan menganggap kehadirannya tidak sejalan dengan citra yang selama ini dibangun melalui karya maupun program yang dibawakannya.

Namun, penting dicatat bahwa kritik dan interpretasi tersebut merupakan respons publik terhadap sebuah simbol visual. Kehadiran seseorang dalam sebuah acara kenegaraan, dengan sendirinya, tidak serta-merta membuktikan adanya afiliasi politik atau perubahan sikap politik.

Marissa Anita Minta Maaf

Setelah polemik berkembang, Marissa Anita akhirnya memberikan tanggapan melalui akun X pribadinya pada Selasa (18/8/2026).

Ia mengakui adanya kekeliruan dan menyampaikan permintaan maaf kepada para pendengar serta komunitas yang mengikuti In Her View.

"Kepada ViewHers yang kami cintai dan hormati, kami minta maaf atas tindakan kami yang keliru," tulis Marissa Anita.
Marissa mengakui kehadiran dan unggahan foto dari Istana Negara telah memicu kekecewaan serta pertanyaan di tengah komunitas maupun masyarakat.

Menurutnya, kritik tersebut menjadi bahan evaluasi bagi mereka yang memiliki ruang publik.

“Kami memiliki tanggung jawab untuk mempertimbangkan dengan lebih matang setiap keputusan yang kami ambil,” lanjutnya.

Setelah polemik semakin ramai, Pancatera juga memberikan penjelasan melalui akun media sosialnya, termasuk Threads @Pancatera.

Dalam pernyataannya, Pancatera menyampaikan permintaan maaf kepada komunitas ViewHers dan masyarakat.

Mereka juga menegaskan bahwa In Her View dan Pancatera beroperasi secara independen serta didanai secara mandiri. Pancatera menyatakan tidak memiliki afiliasi dengan pemerintah maupun lembaga politik mana pun.

(Dari kiri ke kanan) Marissa Anita, Kai Soerja, Caroline Soerachmat, dan Karina Basrewan yang merupakan host Pancatera.

Mengapa Publik Bisa Membaca Foto Secara Berbeda?

Untuk memahami mengapa sebuah foto bisa memunculkan reaksi yang begitu besar, persoalannya tidak cukup dilihat dari siapa yang hadir dan di mana foto tersebut diambil.

Peneliti di Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia (UI), Wawan Kurniawan, menjelaskan fenomena tersebut dari perspektif psikologi politik.

Menurut Wawan, foto tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi, tetapi juga dapat menjadi simbol yang membentuk persepsi publik.

"Secara psikologis, manusia memproses informasi sosial melalui asosiasi simbolik. Foto bukan sekadar dokumentasi momen. Ia berfungsi sebagai cue (petunjuk) yang secara otomatis mengaktifkan skema mental tertentu," ujar Wawan kepada Suara.com.

Ia menguraikan setidaknya empat hal yang membuat foto tersebut berpotensi memicu perdebatan.

1. Asosiasi dengan Kekuasaan

Pertama, adanya affiliation heuristic atau kecenderungan manusia menyimpulkan kedekatan berdasarkan siapa yang terlihat bersama.

"Otak kita cenderung menyederhanakan: 'Siapa yang berdiri di samping siapa = siapa yang dekat dengan siapa.' Dalam konteks kekuasaan, kedekatan fisik dengan tokoh politik tertinggi sering dibaca sebagai tanda kedekatan emosional, ideologis, atau bahkan kepentingan," jelasnya.

Menurut Wawan, persepsi semacam ini tidak selalu didasarkan pada bukti adanya hubungan atau transaksi tertentu.

Publik, kata dia, terkadang cukup menangkap kesan adanya kedekatan untuk kemudian membentuk interpretasi sendiri.

2. Ekspektasi terhadap Citra In Her View

Faktor kedua adalah role expectation, yakni ekspektasi yang sudah terbentuk terhadap peran dan karakter sebuah platform.

"In Her View selama ini membangun citra sebagai ruang diskusi yang relatif independen, kritis terhadap isu sosial, dan memberi ruang bagi perspektif yang tidak selalu sejalan dengan narasi resmi," paparnya.

Karena itu, ketika pembawa acara muncul dalam acara kenegaraan dan mengunggah foto bersama Presiden, sebagian audiens dapat merasakan adanya ketidaksesuaian antara citra yang mereka kenal dengan situasi yang mereka lihat.

"Ketika host-nya muncul di acara kenegaraan resmi dan mengunggah foto tersebut, terjadi disonansi kognitif di kalangan audiens. Mereka merasa 'produk yang kami konsumsi' tiba-tiba tidak konsisten dengan 'nilai yang dijual'. Disonansi ini memicu reaksi defensif berupa kritik atau kekecewaan," lanjut Wawan.

3. Istana Punya Simbol Kekuasaan yang Kuat

Lokasi foto juga ikut memengaruhi cara publik menafsirkannya.

Menurut Wawan, Istana Negara bukan sekadar tempat berlangsungnya sebuah acara. Istana memiliki simbol yang kuat sebagai pusat kekuasaan negara.

"Istana Negara bukan sekadar lokasi. Ia adalah simbol institusi kekuasaan. Kehadiran di sana, apalagi di momen HUT RI yang sangat resmi, secara psikologis bisa dibaca sebagai bentuk symbolic co-optation—proses di mana pihak independen 'diserap' ke dalam orbit kekuasaan melalui undangan dan eksposur," jelasnya.

Kedekatan dengan pusat kekuasaan, lanjut Wawan, dapat memunculkan kekhawatiran publik bahwa independensi seseorang atau sebuah platform telah berkurang.

Meski demikian, persepsi tersebut tidak otomatis menunjukkan bahwa independensi memang telah berubah secara faktual.

4. Kekuatan Foto di Media Sosial

Faktor terakhir adalah karakter media sosial yang membuat sebuah gambar dapat menyebar jauh lebih cepat dibandingkan penjelasan panjang.

"Di ruang media sosial, foto memiliki daya sebar dan daya interpretasi yang jauh lebih tinggi daripada teks klarifikasi. Satu gambar bisa memicu ratusan interpretasi berbeda dalam hitungan jam," kata Wawan.

Audiens yang sejak awal memiliki sikap kritis terhadap pemerintah dapat membaca foto tersebut sebagai simbol kedekatan atau keberpihakan.

Sebaliknya, mereka yang tidak memiliki prasangka politik tertentu mungkin melihatnya sebagai dokumentasi biasa dari sebuah perayaan nasional.

Perbedaan cara membaca inilah yang kemudian memperbesar perdebatan.

Infografis Berfoto bersama Penguasa yang Dibaca sebagai Keberpihakan. (Suara.com/Syahda)

Jadi, Mengapa Foto Ini Menjadi Polemik?

Pada akhirnya, polemik foto Marissa Anita dan kru In Her View bersama Presiden Prabowo tidak semata-mata tentang sebuah foto.

Di era media sosial, sebuah gambar dapat membawa makna yang jauh lebih besar daripada konteks ketika gambar itu dibuat. Identitas orang yang ada di dalamnya, reputasi yang sudah dibangun, lokasi pengambilan gambar, hingga persepsi politik audiens ikut menentukan bagaimana sebuah momen dibaca.

Bagi sebagian publik, foto tersebut mungkin sekadar dokumentasi kehadiran dalam perayaan HUT RI di Istana. Namun bagi audiens yang selama ini menaruh kepercayaan pada citra kritis dan independen In Her View, momen yang sama dapat memunculkan pertanyaan tentang konsistensi dan posisi platform tersebut.

Karena itu, polemik ini pada dasarnya memperlihatkan satu hal penting: di ruang publik, independensi bukan hanya soal apa yang diyakini atau dikatakan, tetapi juga bagaimana sebuah tindakan dan simbol dibaca oleh audiens.

Klarifikasi Marissa dan Pancatera pun menjadi bagian dari upaya menjawab pertanyaan tersebut. Pada akhirnya, publik tetap memiliki ruang untuk menilai, sementara pihak yang memiliki panggung publik dituntut untuk menjelaskan konteks di balik setiap keputusan yang berpotensi memengaruhi kepercayaan audiensnya.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com