Belum Dapat Tenda Pemerintah, Warga Korban Gempa Flores Mulai Sakit-sakitan

Kamis, 27 Agustus 2026 | 19:09 WIB
Kondisi di pengungsian pascagempa Flores NTT (dok. Plan Indonesia)
  • Warga Desa Golo Lanak Manggarai mendirikan tenda mandiri karena belum menerima bantuan dari pemerintah setelah gempa Flores 2026.
  • Warga terdampak gempa mengalami batuk, demam, dan sakit kepala akibat cuaca ekstrem serta lingkungan berdebu di tenda darurat.
  • Warga meminta pemerintah segera mengirimkan tenaga medis dan psikiater untuk memulihkan kondisi mental masyarakat yang terdampak gempa.

Suara.com - Warga Desa Golo Lanak, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih bertahan di tenda darurat setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.

Namun, Kepala Desa Golo Lanak Sebastian Mbaik mengatakan warga belum mendapatkan tenda pengungsian dari pemerintah. Warga terpaksa membuat tenda secara mandiri menggunakan terpal, kayu, dan bambu.

"(Tenda BNPB) sama sekali tidak dapat. Terpal mandiri punya kami ini, pakai kayu, bambu," kata Sebastian kepada Suara.com, saat dihubungi Rabu (26/8/2026).

Menurut Sebastian, sejumlah warga kini mulai mengalami gangguan kesehatan seperti batuk, pilek, demam, hingga sakit kepala. Kondisi itu diperparah dengan lingkungan desa yang berdebu pada siang hari dan angin kencang pada malam hari.

"Keadaan masyarakat saya di sini sakit, batuk, pilek, demam mereka. Karena kampung kami ini kan gersang, itu debu pada siang hari, malam hari angin kencang," ujarnya.

Ia mengatakan memang terdapat bantuan terpal dari sejumlah pihak, termasuk lembaga sosial Plan. Namun, jumlahnya belum mencukupi kebutuhan warga yang masih membutuhkan tempat berlindung.

Karena tidak mendapat tenda pengungsian dari pemerintah, warga kemudian membuat tempat perlindungan sendiri di sekitar kampung.

"Kami tenda mandiri kampungnya ini," tutur Sebastian.

Kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri bagi warga karena Desa Golo Lanak berada di wilayah pegunungan dan dekat dengan laut. Angin kencang juga disebut membuat kondisi tenda darurat warga semakin tidak nyaman.

Tiga anak bermain di posko pengungsian Lapangan Barangkolong, Reo, Kabupaten Manggarai, NTT, Kamis (20/8/2026). [ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/nym]

"Angin kencang memang. Ini kan Desa Golo Lanak ini dekat dengan laut, di pegunungan tinggi memang, jadi banyak yang sakit kepala," katanya.

Tak hanya sakit fisik, gempa berkekuatan 7,7 SR itu juga dinilai turut mengguncang mental warga Flores. Efridus Jerahi, warga Kampung Gurung, Desa Golo Lanak, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai, berharap pemerintah perlu menghadirkan psikolog maupun psikiater untuk membantu memulihkan mental masyarakat.

"Dalam kondisi seperti ini mestinya kami masyarakat terdampak dapat banyak dukungan dari pemerintah, terutama untuk pemulihan. Yang pertama sekali secara psikologis mestinya datangkan dokter, tenaga medis, terutama dari segi psikologis," kata Efridus.

Ia berharap pemerintah juga dapat menghadirkan psikiater untuk menemui warga secara langsung dan memberikan pendampingan setelah mereka mengalami bencana.

"Syukur kalau misalnya ada psikiater untuk datang menemui kami, memberikan dukungan bahwa bencana ini sesuatu yang tidak bisa dielakkan, tapi paling tidak kami harus masih bisa bertahan," ujarnya.

Menurut Efridus, dukungan psikologis penting untuk membantu masyarakat kembali menguat setelah menghadapi situasi yang tidak mudah.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com