Tanpa Gaji Tetap, Kisah Penjaga Pantai Gaza Bertaruh Nyawa di Tengah Tawa Warga Palestina

Jum'at, 28 Agustus 2026 | 16:38 WIB
Tim penjaga pantai Gaza terus berjuang menyelamatkan ribuan perenang tanpa peralatan dasar akibat perang. (Al Jazeera)
  • Penjaga pantai Gaza bertugas tanpa menara pantau, kapal, dan pelampung penyelamat yang memadai.

  • Blokade dan pembatasan impor memicu lonjakan harga peralatan dasar seperti peluit keselamatan pantai.

  • Para petugas terus bekerja secara sukarela meski menghadapi penunggakan gaji dan trauma perang.

“Jika empat atau lima orang mulai tenggelam pada saat yang sama, kami tidak memiliki cukup pelampung untuk mereka semua. Kami mengandalkan diri kami sendiri dan kekuatan para pemuda untuk membawa mereka kembali,” tutur Bakar.

“Peluit itu dulunya berharga 25 shekel (8 dolar AS) sebelum perang. Hari ini harganya 100 shekel (34 dolar AS),” ungkap Shamlakh.

Bagaimana Para Petugas Bertahan di Tengah Krisis Finansial?

Penjaga pantai di Gaza menghadapi ketidakpastian ekonomi yang berat dengan upah harian yang sangat minim dan sering menunggak. Banyak di antara mereka adalah mantan nelayan yang kehilangan mata pencaharian utama karena larangan melaut dari otoritas militer.

Sebagian besar petugas belum menerima pembayaran gaji selama berbulan-bulan di tengah melonjaknya harga kebutuhan pokok harian. Kendati demikian, mereka tetap datang lebih awal sebelum jam kerja resmi dimulai untuk menjaga keselamatan warga secara sukarela.

“Saya memiliki tiga orang anak, dan bersama istri saya, kami berlima. Semua pemuda sedang berjuang. Tidak ada uang, dan tidak ada gaji rutin,” kata Bakar.

“Para penjaga pantai berjuang sama seperti orang lain,” kata Shamlakh.

“Kami turun secara sukarela dari jam 6 sampai jam 8 pagi. Kami mencakup waktu itu agar tidak ada insiden tenggelam,” tambah Shamlakh.

Apa yang Memotivasi Mereka Tetap Bertugas Tanpa Gaji?

Dedikasi mendalam untuk menyelamatkan nyawa sesama menjadi pendorong utama para penjaga pantai ini bertahan di garis depan. Pekerjaan lapangan ini sekaligus menjadi sarana spiritual untuk mengenang anggota keluarga mereka yang telah gugur.

Pengabdian di sepanjang pesisir pantai Gaza terus diwariskan dari tahun ke tahun oleh para petugas senior tanpa ragu. Kesetiaan pada profesi kemanusiaan ini tetap terjaga meski kondisi perang terus memperburuk keadaan mereka.

“Bagi saya, menyelamatkan satu nyawa adalah kehormatan besar dan memberi saya kenyamanan. Ketika saya menyelamatkan sebuah nyawa, saya merasa seperti menyelamatkan diri saya sendiri,” tutur Abu Haseira.

“Saya merasa memberikan ini untuk jiwa anak-anak dan istri saya,” sambungnya.

“Setiap tahun, mereka bertanya kepada kami apakah kami siap untuk kembali dan bekerja dalam penyelamatan. Kami memberi tahu mereka: ya, kami siap,” tegas Bakar.

Sektor pariwisata dan rekreasi pantai di Gaza sebelumnya ditunjang oleh puluhan menara pantau modern yang dilengkapi sistem komunikasi pengeras suara setiap 200 meter. Perang berkepanjangan yang menghancurkan seluruh fasilitas tersebut kini menyisakan garis pantai tanpa perlindungan standar keselamatan internasioal.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com