- Nepal menanggung dampak krisis iklim parah walau emisi gas rumah kacanya sangat rendah.
- Kerugian banjir bandang Nepal diperkirakan mencapai miliaran dolar dan memicu bantuan internasional.
- Kritikus mempertanyakan efektivitas penyaluran dana adaptasi iklim kepada masyarakat terdampak di Nepal.
Suara.com - Bencana banjir bandang yang melanda Nepal diperkirakan menelan kerugian hingga miliaran dolar di tengah minimnya kontribusi emisi negara tersebut. Kerusakan hebat ini memaksa komunitas internasional segera mengalirkan bantuan darurat untuk menyelamatkan para korban.
Menteri Luar Negeri Nepal mengonfirmasi besarnya estimasi kerusakan fisik serta infrastruktur akibat terjangan air bah. Meski demikian, pihak pemerintah mengaku masih enggan berspekulasi lebih jauh mengenai angka pasti kerugian pada tahap ini.
Kondisi ini memicu respons cepat dari negara-negara donor yang langsung mengomandani pengiriman dana dan tim penyelamat. Langkah cepat tersebut diambil guna menopang wilayah terdampak yang kini mengalami kelumpuhan total.
Dikutip dari BBC, Perdana Menteri Inggris Andy Burnham menjanjikan bantuan senilai 5 juta poundsterling untuk merespons bencana tersebut. Pihaknya menilai situasi yang terjadi di lapangan sangat menyusahkan dan merusak.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengumumkan bantuan kemanusiaan darurat sebesar 2 juta euro atau sekitar 1,7 juta poundsterling. Dana tersebut dialokasikan secara khusus guna menyalurkan bantuan penyelamatan jiwa bagi para warga terdampak.
Bagaimana Skala Dukungan Internasional Mengalir ke Nepal?
Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand berkomitmen mengucurkan dana darurat sebesar 5 juta dolar Kanada atau setara 2,65 juta poundsterling. Penyaluran bantuan darurat ini dipercayakan melalui jaringan PBB, Palang Merah, serta organisasi non-pemerintah.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat siap menyalurkan dana bantuan darurat sebesar 500.000 dolar AS atau setara 369.000 poundsterling. Dukungan ini diprioritaskan untuk penyediaan tempat penampungan darurat, pasokan air bersih, fasilitas sanitasi, serta logistik pemulihan.
Menteri Luar Negeri India S Jaishankar mengonfirmasi penerbangan ketiga yang membawa bantuan kemanusiaan telah mendarat di Kathmandu pada Jumat. Pesawat tersebut mengangkut "10 ton bantuan kemanusiaan" beserta 11 personel tim medis dan penyelamat terowongan.
Baca Juga: 261 Warga China Hilang di Banjir Bandang Nepal, Total 2.400 Orang Belum Ketemu
Duta Besar China untuk Nepal menyatakan pihaknya juga telah mengoordinasikan pengiriman barang-barang kebutuhan darurat. Selain logistik, pemerintah China turut menyalurkan bantuan dalam bentuk dana tunai.
Berbagai dukungan internasional ini hadir saat Nepal berjuang mengatasi dampak buruk perubahan iklim yang saban tahun makin merusak. Negara di kawasan Himalaya ini terus menanggung akibat dari fenomena global yang tidak diciptakannya.
Mengapa Kesiapsiagaan Nepal Menghadapi Iklim Masih Dipertanyakan?
Nepal mencatatkan porsi emisi gas rumah kaca kurang dari 0,05 persen terhadap total emisi global menurut beberapa studi. Padahal, emisi gas rumah kaca merupakan penyebab utama terjadinya pemanasan global.
Hampir seluruh pasokan listrik Nepal bersumber dari pembangkit listrik tenaga air berkat limpahan aliran sungai yang bersumber dari gletser Himalaya. Pemerintah setempat juga terus meningkatkan instalasi energi bersih lain seperti tenaga surya dan angin.
Pemerintah Nepal telah melindungi lebih dari 46 persen wilayah daratannya sebagai kawasan hutan penyerap karbon. Kawasan hutan ini menjadi benteng utama dalam mendukung upaya dunia melawan krisis iklim.
Ketidakstabilan politik yang berlangsung bertahun-tahun menghambat Nepal dalam melakukan adaptasi maksimal terhadap dampak perubahan iklim. Akibatnya, upaya perlindungan wilayah dari potensi bencana alam tidak berjalan optimal.
Meski menerima dana iklim bernilai besar dari negara maju dan lembaga keuangan internasional, penyalurannya menuai kritik tajam. Para kritikus menilai dana adaptasi tersebut belum banyak terserap oleh masyarakat rentan di tingkat tapak.
Berita Terkait
Terpopuler
- Singapura Diguncang Gelombang Protes Rakyatnya, Buntut Rencana Penggundulan Hutan untuk Perumahan
- Daihatsu Kenalkan Mobil 120 Jutaan, 1 Liter Jalan 27 Km
- Cara Membersihkan Bunga Es dengan Aman dan Cepat Tanpa Merusak Freezer
- 6 HP Realme RAM 12 GB dengan Performa Kencang, Mulai Rp2 Jutaan
- Erick Thohir Buka Hasil Evaluasi Timnas Indonesia usai Gagal di Piala AFF 2026
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
Paradoks Nepal, Emisi Karbon Rendah Tapi Jadi Korban Perubahan Iklim
-
Perkuat Ekosistem Seni dan Pariwisata Danau Toba, BPODT Hadirkan The Kaldera Festival
-
Dari Ketegangan Massa Hingga Desakan RUU Perampasan Aset saat Demo 27 Agustus
-
Dua Lawan Berat Persija vs Borneo FC dan Persib, Shin Tae-yong Respon Kalem
-
Lewat AIESEC UI Gelar LeadSummit 2026, Generasi Muda Dibekali Beradaptasi di Dunia Profesional
-
Belanja Lifework Tanpa Minimal Transaksi? Nikmati Diskon 17% Khusus Nasabah BRI!
-
Sejumlah Saksi Kembalikan Uang dari Kasus Pemerasan TKA yang Libatkan Silmy Karim ke KPK
-
5 Suplemen Glutathione dan Vitamin C untuk Membantu Pudarkan Flek Hitam dari Dalam
-
Deretan Figur Publik yang Gabung ke GRIB Ormas Bentukan Hercules: Dari Artis hingga Anak Raja
-
Berkas Lengkap, Bupati Tulungagung Gatut Sunu dan Ajudannya Jalani Sidang Perdana Jumat