-
Runtuhan es Nepal meninggalkan endapan lumpur tebal yang memicu risiko banjir bandang susulan.
-
Pakar mendesak transparansi data dan perbaikan sistem peringatan dini di seluruh kawasan Himalaya.
-
Kerentanan permukiman dan lemahnya struktur bangunan memperparah dampak kerusakan akibat bencana alam.
Tantangan terbesar dalam pemantauan ini terletak pada bentang alam Himalaya yang sangat luas dan kompleks. Setiap gletser memiliki karakteristik geologi yang unik sehingga tidak bisa ditangani dengan pendekatan tunggal.
"Ada sangat banyak gletser di seluruh Himalaya sehingga memantau semuanya merupakan tugas yang sangat menantang," kata Van Wyk de Vries.
Penyusutan massa es terjadi lambat dalam hitungan tahun, tetapi runtuhan gletser berlangsung sangat cepat dalam hitungan detik. Longsoran batuan di dasar gletser menjadi pemicu utama ambrolnya bongkahan es di Nepal.
Pelajaran terpenting dari bencana ini adalah perlunya memperluas jangkauan pengawasan ke seluruh kawasan pegunungan Himalaya. Potensi bencana serupa mengintai ratusan lembah lain yang memiliki struktur geologi identik.
"Saya pikir apa yang benar-benar perlu kita lakukan sekarang adalah melihat banjir ini dan melihat bahwa banjir ini mungkin bisa terjadi di sekitar 100 lembah lainnya di seluruh Himalaya," ujar Van Wyk de Vries.
Peristiwa ini berawal dari runtuhnya material es dan batuan di kawasan pegunungan tinggi perbatasan Nepal dan Tibet seminggu lalu. Hempasan material tersebut mengirimkan gelombang air dan lumpur masif yang merusak infrastruktur serta kawasan pemukiman di sepanjang lembah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gus Kikin Pimpin PBNU, Antara Satire 'Salah Dalil' hingga Guyon 'PWNU Jatim Cabang Jakarta'
- 8 Sepatu Jalan untuk Komuter KRL dan MRT yang Empuk dan Awet
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 3 September 2026, Kesulitan Karier dan Keuangan Segera Berakhir
- Emil Audero Salah Pilih Klub? Pemerintah Serang Rayo Vallecano: Klub Gak Mampu
- Perbedaan Sunscreen Sejuta Umat Azarine vs Facetology, Bagus Mana?
Pilihan
-
Gempa M 5,3 Guncang Cilacap Siang Ini, Getaran Terasa hingga DIY dan Jabar
-
Api Masih Merah! 105 Personel Cari Korban Kebakaran Apartemen Pavilion Tanah Abang yang Terjebak
-
Kebakaran Melanda Apartemen Pavilion Tanah Abang, Petugas Sisir Penghuni Terjebak
-
Privilese TNI dari Suku Dayak Diduga Cara Rezim Amankan Ekspansi Bisnis Hutan
-
Sudah dari 2023, 'Nyelang' Jadi Napas Warga Pesisir Cilincing Demi Dapatkan Air Bersih
Terkini
-
Menkeu Purbaya: Cara Berpikir Saya Tetap Ekonom, Makanya Banyak Dimusuhi
-
Nilai Tukar Petani Sumsel Tembus Rekor 3 Tahun, Kenapa Nelayan Justru Tertekan?
-
Inpres Larangan Bakar Hutan Segera Terbit, Pemerintah Diminta Libatkan Masyarakat Adat
-
Sedekah dan Wakaf Energi Al Washliyah Dapat Dukungan Jasa Tirta I
-
Upaya Gubernur Ahmad Luthfi Atasi Kemiskinan Menuai Berbagai Apresiasi
-
Huawei Watch D3 Resmi Diperkenalkan, Bawa Teknologi Tensi Darah dalam Balutan Lebih Elegan
-
PTUN Jakarta Tolak Gugatan PKPI, PERKAPI Tegaskan Status Hukumnya Sah
-
Teknologi Energi hingga Data Center Dipamerkan di IEE Energy Week 2026
-
Merger PT Adhi Karya dan PT PP Rampung Desember 2026, Siapa yang Akan Bertahan?
-
Beda Cushion Somethinc Hooman dan Copy Paste, Mana yang Cocok untukmu?