Kemarau Panjang dan Karhutla, MUI Ajak Umat Islam Salat Istisqa Minta Hujan

Jum'at, 04 September 2026 | 13:08 WIB
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis. [Antara/Anom Prihantoro]
  • Wakil Ketua Umum MUI Cholil Nafis mengajak umat Islam melaksanakan Salat Istisqa untuk mengatasi kekeringan dan karhutla pada Jumat (4/9/2026).
  • Pemerintah mengerahkan 53 aset udara dan melibatkan berbagai instansi guna mengendalikan kebakaran hutan di tujuh wilayah Indonesia.
  • Kementerian Kehutanan mencatat jumlah zona merah kualitas udara sangat tidak sehat menurun drastis dan kini tersisa di Kalimantan Barat.

Suara.com - Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis mengajak umat Islam di Indonesia melaksanakan Salat Istisqa atau salat meminta hujan di tengah kemarau dan kekeringan yang masih melanda sejumlah wilayah.

Ajakan tersebut disampaikan Kiai Cholil sebagai ikhtiar spiritual untuk menghadapi kekeringan berkepanjangan sekaligus berharap hujan segera turun di wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Kemarau dan Kekeringan melanda kita bahkan kebakaran Karhutla masih terus terjadi, mari doakan mudah-mudahan segera turun hujan di Indonesia di tempat-tempat kemarau dan kebakaran. Bahkan kami mengajak umat untuk shalat Istisqa’ (minta hujan)," ujarnya, dikutip dari unggahannya di akun X pribadinya, Jumat (4/9/2026).

Selain usaha teknis dan fisik yang dilakukan oleh pemerintah serta petugas pemadam kebakaran di lapangan, Cholil mengatakan doa bersama dinilai menjadi dorongan moral dan spiritual yang sangat penting.

Ia pun mengajak masyarakat untuk turut memanjatkan doa agar hujan segera turun di wilayah Indonesia yang tengah mengalami kemarau dan kebakaran.

Sementara itu, penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih dilakukan pemerintah di sejumlah wilayah Indonesia.

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengklaim kalau kualitas udara di sejumlah wilayah terdampak karhutla mulai membaik. Zona merah dengan kualitas udara sangat tidak sehat disebut turun drastis dan kini hanya tersisa di sebagian kecil wilayah Kalimantan Barat.

Kemenhut mencatat berdasarkan data SiPongi per 3 September 2026 pukul 21.19 WIB, terdapat 688 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. Pemerintah masih memfokuskan pengendalian karhutla di tujuh wilayah, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.

Untuk menangani karhutla, pemerintah mengerahkan 53 aset udara. Sebanyak 19 aset digunakan untuk patroli udara dan operasi modifikasi cuaca, sedangkan 34 aset lainnya digunakan untuk water bombing. Operasi tersebut melibatkan Manggala Agni, TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, masyarakat, serta sejumlah pihak terkait.

Sebelumnya, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Kepala BNPB Suharyanto dan Gubernur Jambi Al Haris memantau kondisi karhutla di Jambi dari udara pada 2 September 2026.

Dalam pemantauan tersebut, Menhut menyebut September sebagai fase yang sangat krusial dalam pengendalian karhutla. Pemerintah pusat dan daerah, TNI, Polri, masyarakat, serta para pihak diminta terus menjaga kesiapsiagaan.

Di Jambi, BNPB juga mengoptimalkan operasi modifikasi cuaca. Helikopter telah melakukan delapan sortie dengan total waktu penerbangan 15 jam 32 menit untuk menyemai 8.000 kilogram natrium klorida (NaCl).

BNPB juga masih mencatat kejadian karhutla di sejumlah daerah. Dalam laporan penanganan bencana, karhutla dan kekeringan masih menjadi bencana yang dilaporkan di berbagai wilayah Indonesia.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com