News / Metropolitan
Senin, 07 September 2026 | 15:48 WIB
Pemprov DKI Jakarta menyiram sejumlah wilayah untuk menekan penyebaran abu vulkanik pascaletusan Gunung Anak Krakatau. (Dok. Dinas LH DKI Jakarta)
Baca 10 detik
  • Pemprov DKI Jakarta menyiram wilayah terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada Minggu hingga Senin, 6-7 September 2026.
  • Petugas menggunakan armada pemadam kebakaran dan unit water mist untuk membasahi endapan abu berbahaya di beberapa titik.
  • Operasi pembasahan tersebut berhasil mempersempit sebaran partikulat PM10 dan PM2.5 tinggi di berbagai wilayah DKI Jakarta.

Suara.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bergerak taktis menyiram sejumlah wilayah untuk menekan penyebaran abu vulkanik pascaletusan Gunung Anak Krakatau.

Operasi yang melibatkan puluhan armada pemadam kebakaran dan unit *water mist* ini mulai membuahkan hasil positif pada pemantauan sejak Minggu (6/9/2026) hingga Senin (7/9/2026).

Fokus utama petugas di lapangan adalah membasahi endapan abu agar partikel berbahaya tidak terbang kembali saat tertiup angin atau tergilas kendaraan.

Berdasarkan data terbaru, sebaran partikulat PM10 yang berkonsentrasi tinggi kini mulai menyempit dan kian terbatas di beberapa titik saja.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Dudi Gardesi, menegaskan bahwa keselamatan warga tetap menjadi prioritas tertinggi dalam operasi darurat ini.

“Kami ingin warga merasakan kehadiran pemerintah melalui tindakan yang cepat dan jelas. Petugas bergerak melakukan penyiraman, sementara kondisi udara terus dipantau agar langkah perlindungan warga dapat disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan,” ujar Dudi dalam keterangan resminya hari ini.

Perbaikan kualitas udara ini terpantau paling mencolok di wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Timur, serta Jakarta Selatan yang sebelumnya terdampak cukup luas.

Meski demikian, tim di lapangan masih memantau ketat kawasan Cilincing bagian timur dan Cipayung bagian tenggara yang tercatat masih memiliki kadar PM10 cukup tinggi.

“Penyempitan sebaran PM10 tinggi merupakan perkembangan yang menggembirakan. Data ini sekaligus membantu kami mengenali wilayah yang masih membutuhkan perhatian, sehingga penanganan berikutnya dapat lebih terarah,” kata Dudi.

Baca Juga: Warga Serbu Pasar Asemka Cari Masker, Pedagang: Stok KF95 Kosong Sejak Kemarin!

Selain PM10, laporan tersebut juga menunjukkan berkurangnya sebaran area dengan konsentrasi PM2.5 tinggi di sebagian Jakarta Utara dan Jakarta Timur.

Metode pembasahan ini sengaja dipilih karena dinilai efektif mengunci debu pada permukaan jalan sesuai dengan panduan mitigasi yang dipublikasikan oleh USGS.

Hingga saat ini, Pemprov DKI terus melakukan evaluasi berkelanjutan dengan memperhitungkan faktor cuaca seperti arah angin dan potensi hujan.

“Kami akan menggunakan hasil pemantauan untuk menentukan lokasi yang perlu diprioritaskan, sekaligus menyampaikan perkembangan kondisi udara secara terbuka. Dengan begitu, warga mengetahui apa yang sedang dilakukan pemerintah dan langkah yang perlu mereka ambil untuk melindungi keluarga,” tutur Dudi.

Pemerintah mengimbau masyarakat agar tetap menggunakan masker saat harus melakukan aktivitas di luar ruangan.

“Keselamatan warga menjadi pegangan kami. Melalui kerja bersama lintas dinas dan pemantauan yang berkelanjutan, kami ingin memastikan respons pemerintah tetap cepat, penanganannya tepat sasaran, dan masyarakat memperoleh informasi yang mudah dipahami,” tutup Dudi. 

Load More