Gunung Anak Krakatau Mulai Tenang: Tak Ada Ancaman Tsunami, Penerbangan Kembali Normal

Selasa, 08 September 2026 | 15:03 WIB
Tampilan foto udara erupsi Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Sabtu (5/9/2026). ANTARA/HO-Badan Geologi
  • Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau menurun dan BMKG memastikan tidak ada ancaman tsunami di Selat Sunda.
  • Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyatakan potensi tsunami kategori rendah pada delapan September 2026.
  • Delapan bandara termasuk Soekarno-Hatta kembali beroperasi normal setelah dinyatakan negatif dari paparan abu vulkanik.

Suara.com - Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) menunjukkan tren penurunan signifikan setelah sempat memicu kekhawatiran akibat sebaran abu vulkanik. Seiring meredanya letusan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan tidak ada ancaman gelombang laut berbahaya atau tsunami di sekitar perairan Selat Sunda.

Kondisi yang berangsur aman ini juga membawa angin segar bagi mobilitas masyarakat. Sejumlah bandar udara yang sempat ditutup demi keselamatan penerbangan kini telah kembali beroperasi normal.

Pemantauan intensif BMKG melalui 20 alat tsunami gauge dan HF Radar Array di kawasan Carita serta Tanjung Lesung menunjukkan tidak adanya anomali muka air laut.

Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menegaskan probabilitas terjadinya tsunami saat ini berada di bawah 50 persen atau masuk dalam kategori rendah. Prakiraan tinggi gelombang di wilayah Selat Sunda untuk sepekan ke depan (8–13 September 2026) juga masih dalam batas wajar, yakni berkisar antara 0,5 hingga 3 meter.

"Hingga pagi ini, tidak terdeteksi anomali kenaikan tinggi muka air laut ataupun perubahan pola arus permukaan secara signifikan yang mengindikasikan akan terjadinya tsunami," jelas Ardhasena dalam keterangannya, Selasa (8/9/2026).

Dari sisi aktivitas vulkanik, laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada Selasa (8/9) pagi pukul 07.49 WIB mencatat erupsi GAK hanya berupa erupsi strombolien atau erupsi kecil. Indikator lain, seperti gangguan geomagnetik dan sambaran petir vulkanik, juga menunjukkan penurunan intensitas dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Ilustrasi penerbangan pesawat (pexels.com/@vlada-karpovich)

Cuaca di sekitar lokasi juga sangat mendukung proses pemulihan. Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, memaparkan kondisi di perairan tersebut.

“Pantuan cuaca di sekitar GAK dan perairan Selat Sunda cenderung cerah hingga cerah berawan dari pagi hingga malam hari,” ujar Andri.

Ruang Udara Bersih, 8 Bandara Kembali Dibuka

Meredanya letusan Anak Krakatau berbanding lurus dengan membaiknya kualitas ruang udara. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan bahwa uji coba paper test di sejumlah area penerbangan telah membuktikan tidak adanya lagi sebaran abu vulkanik yang berbahaya bagi mesin pesawat.

“Hasil pengamatan paper test per pukul 06.00 WIB menyatakan bahwa delapan bandara yang sebelumnya ditutup operasionalnya dinyatakan negatif dari paparan abu vulkanik. BMKG tetap memantau pergerakan abu secara real-time agar seluruh penerbangan berjalan aman,” kata Faisal.

Menindaklanjuti hal tersebut, AirNav Indonesia menerbitkan Notice to Airmen (NOTAM) pembukaan kembali operasional penerbangan. Bandara Soekarno-Hatta (Tangerang), Halim Perdanakusuma (Jakarta), Husein Sastranegara (Bandung), hingga Radin Inten II (Lampung) kini sudah bisa melayani penumpang.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com