- Kelompok Houthi merebut kota Mocha di Yaman pada Kamis untuk memperkuat cengkeraman strategis mereka di Laut Merah.
- Penguasaan wilayah tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia secara ekstrem serta menekan popularitas Presiden AS Donald Trump.
- Departemen Keuangan AS meluncurkan sanksi baru guna memutus aliran dana perang Iran akibat eskalasi konflik maritim ini.
Padahal, sumber dari pemerintah Yaman, Iran, maupun regional mengonfirmasi bahwa ekspansi Houthi pekan ini dipandu langsung oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran.
Guna mencegah krisis yang makin liar, Pakistan dikabarkan telah menyampaikan peringatan dari Arab Saudi kepada Iran agar mengendalikan kelompok Houthi. Namun, seorang pejabat senior Iran menyatakan bahwa balasan dari Tehran adalah: "Iran tidak mengendalikan Houthi."
Dampak Ekonomi dan Sanksi Lanjutan
Kekhawatiran atas terganggunya rute pasokan maritim langsung berimbas hebat pada pasar komoditas. Harga minyak mentah Brent melonjak hingga 4 persen melampaui USD 105 per barel pada Kamis. Di AS, harga rata-rata solar nasional tembus melampaui USD 6 per galon untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Konflik maritim ini terjadi di tengah gelombang serangan balasan terbesar antara AS dan Iran terhadap pelayaran di Teluk. Guna memutus aliran dana perang Tehran, Departemen Keuangan AS meluncurkan sanksi baru terhadap entitas pendukung Hizbullah dan proksi Iran lainnya melalui inisiatif "Operation Economic Outcast".
Pertempuran terbaru ini juga memukul mundur upaya pemulihan lalu lintas kapal di Selat Hormuz oleh Washington. Data pelacakan kapal menunjukkan hanya tujuh armada yang melintasi selat tersebut pada Rabu, anjlok separuh dari rata-rata perlintasan 10 hari terakhir. Eskalasi kian memanas setelah media pemerintah Iran mengklaim bahwa Angkatan Laut IRGC berhasil menyerang sebuah kapal nirawak (unmanned vessel) milik AS di pintu masuk Selat Hormuz.