- Nilai tukar rupiah dibuka melemah ke level Rp17.584 per dolar AS pada hari Jumat, 11 September.
- Pelemahan rupiah disebabkan oleh sentimen global, kenaikan imbal hasil obligasi AS, serta harga minyak dunia.
- Analis memperkirakan mata uang rupiah akan terus melanjutkan tren pelemahan di kisaran Rp17.500 hingga Rp17.650.
Suara.com - Kondisi rupiah masih belum bisa bangkit pada pagi ini. Rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada Jumat 11 September dibuka ke level Rp17. 584 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini melemah 37 poin atau naik 0,21 persen dibandingkan hari sebelumnya yang ada di Rp17.547 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, pelemahan ini dikarenakan sentimen global. Salah satunya kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS yang kembali menguat di tengah kenaikan imbal hasil obligasi AS dan harga minyak dunia," katanya saat dihububgi Suara.com
Dia menambahkan, seiring kekhawatiran bahwa gangguan pasokan dapat berlangsung lebih lama membuat rupiah juga terus tertekan. Adapun, pelemahan mata uang Garuda akan terus berlanjut
"Rupiah ada di kisaran range Rp17.500 hingga Rp17.650," katanya.
Sementara itu, pergerakan mata uang di Asia bervariasi dengan peso Filipina menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,32 persen.
Diikuti dolar Taiwan ambles 0,26 persen dan ringgit Malaysia turun 0,19 persen. Disusul, baht Thailand melemah 0,13 persen. Sementara itu, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,21 persen.
Sedangkan, Jepang terkerek 0,04 persen dan yuan China menanjak 0,02 persen. Diikuti, dolar Singapura yang terapresiasi 0,008 persen. Kemudian ada dolar Hong Kong yang menguat tipis 0,006 persen terhadap the greenback di pagi ini.