- Kreativitas anak muda dibahas dalam Creator Showcase Gen Z Impact Fest 2026.
- Kreator berbagi pengalaman menemukan ide dan membangun audiens.
- Karya juga dapat membuka jejaring, peluang karier, dan gerakan komunitas.
Suara.com - Di tengah pesatnya perkembangan ekosistem digital, karya anak muda menjadi ruang untuk berekspresi sekaligus mengembangkan berbagai hal. Dari sana, kreativitas dapat digunakan untuk membangun personal branding, memperluas jejaring, membentuk komunitas, hingga membuka peluang karier dan bisnis.
Berbagai pengalaman dalam mengembangkan karya dan kreativitas tersebut dibahas dalam sesi Creator Showcase bertajuk "Creators Spotlight: Ideas That Inspire, Works That Create Impact" yang menjadi bagian dari rangkaian Gen Z Impact Fest 2026 di UC Hotel UGM, Sabtu (12/9/2026).
Sesi tersebut menghadirkan sejumlah kreator dan penggerak komunitas yang berbagi pengalaman mengenai perjalanan berkarya, mulai dari menemukan ide, membangun audiens, hingga mengembangkan karya agar dapat memberikan dampak yang lebih luas.
Mereka adalah Pimpinan Umum SKM Bulaksumur Zefanya Lovi Peacela Tangka, Anjani Maltas dari Speaker Academy, Founder The Tribes Yodan Pranata, dan M. Habib Syaifullah dari Trash Hero Yogyakarta.
Pimpinan Umum SKM Bulaksumur Soroti Tantangan Pers Mahasiswa di Era Digital
Gen Z Impact Fest 2026 membahas perkembangan media dan tantangan yang dihadapi pers mahasiswa di tengah perubahan perilaku audiens. Pimpinan Umum SKM Bulaksumur, Zefanya Lovi Peacela Tangka, menilai pers mahasiswa perlu terus beradaptasi dengan perkembangan platform digital.
Lovi mengatakan, perubahan dari media konvensional ke platform digital membuat pers mahasiswa perlu memahami cara menjangkau audiens sekaligus menentukan isu yang menjadi ciri khas media mereka.
Selain itu, pers mahasiswa juga perlu memiliki fokus atau niche agar karya yang dihasilkan tidak sekadar mengulang topik yang sudah dibahas media lain. Isu yang dekat dengan kehidupan mahasiswa dapat menjadi salah satu kekuatan pers mahasiswa dalam membangun karakter medianya.
"Kalau kita sebuah persma, kita punya keutamaan, kita punya tujuan sendiri," katanya.
Lovi mencontohkan SKM Bulaksumur yang memanfaatkan sejumlah platform, mulai dari media konvensional, website hingga Instagram. Satu isu dapat dikembangkan ke berbagai platform dengan kemasan yang disesuaikan dengan karakter masing-masing media.
Ia menjelaskan, konten di Instagram dapat diarahkan ke artikel yang lebih lengkap di website. Strategi tersebut menjadi salah satu cara media mendistribusikan isu sekaligus membangun audiens di berbagai platform.
Selain kemampuan beradaptasi, Lovi menilai pers mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan pembaca. Di tengah maraknya informasi yang beredar melalui media sosial, pers mahasiswa dapat mengambil peran dalam melakukan konfirmasi dan cek fakta.
"Kita sebagai persma bakal banyak melakukan cek fakta," ujar Lovi.
Menurutnya, kemampuan tersebut penting agar pers mahasiswa tetap menjadi sumber informasi yang dapat dipercaya dan tidak ikut menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Lovi juga menilai tantangan pers mahasiswa saat ini bukan sekadar menghasilkan karya yang bagus atau menarik secara visual. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan karya tersebut tetap relevan, dipercaya, dan mampu menyampaikan pesan kepada audiens.