Suara.com - Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap sumber air tidak selalu terlihat saat api masih berkobar. Kerusakan vegetasi akibat kebakaran dapat mengubah kemampuan tanah dalam menyerap air hujan.
Ketika tutupan vegetasi hilang, aliran permukaan meningkat dan membawa abu, sedimen, serta berbagai zat pencemar menuju sungai, danau, hingga waduk yang menjadi sumber air baku.
Penelitian College of Natural Resources, North Carolina State University, menunjukkan kebakaran hutan berintensitas tinggi dapat meningkatkan limpasan air setelah hujan.
Kondisi tersebut juga memperbesar risiko erosi karena tidak ada lagi vegetasi yang membantu menahan tanah.
Hydrologist US Forest Service sekaligus profesor di North Carolina State University, Hydrologist Ge Sun, menjelaskan hilangnya vegetasi akibat kebakaran dapat membuat debit air yang masuk ke sungai meningkat saat hujan deras. Kondisi ini turut mempercepat pengikisan tanah dan tebing sungai.
Dampaknya terhadap kualitas air juga tidak selalu berhenti setelah api padam. Sejumlah studi hidrologi kebakaran menunjukkan kekeruhan air, perubahan komposisi kimia, serta peningkatan nutrien dari abu dapat berlangsung selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun setelah kebakaran.
Temuan penelitian di Indonesia menunjukkan persoalan serupa. Riset Institut Pertanian Bogor (IPB) mencatat karhutla dapat menyebabkan berkurangnya vegetasi, munculnya polusi udara, hingga berkurangnya sumber air di kawasan terdampak.
Karhutla Bukan Sekadar Persoalan Api dan Asap
IRI Indonesia menilai dampak tersebut perlu menjadi perhatian karena karhutla berulang setiap tahun tidak hanya meninggalkan persoalan jangka pendek berupa asap dan titik api.
Hilangnya tutupan hutan dapat mengganggu habitat satwa dan keanekaragaman hayati. Pada saat yang sama, perubahan kondisi tanah dan vegetasi dapat memengaruhi tata air di kawasan terdampak.
Karena itu, keberhasilan penanganan karhutla menurut IRI tidak cukup diukur dari seberapa cepat api dipadamkan atau berapa banyak titik panas yang berhasil ditangani. Dampak ekologis setelah kebakaran juga perlu diperhitungkan, termasuk kondisi hutan, kualitas udara, dan keberlanjutan sumber air.
IRI juga mengingatkan faktor manusia dan tata kelola lahan tidak boleh diabaikan dalam melihat persoalan karhutla. Pengawasan terhadap kawasan rawan kebakaran, pengelolaan lahan, serta penelusuran terhadap kemungkinan pembakaran sengaja menjadi bagian penting dari upaya pencegahan.
Dengan luas indikasi lahan terbakar yang mencapai 76.922,3 hektare di enam provinsi prioritas hingga awal September, ancaman terhadap sumber air menjadi salah satu dampak yang perlu mendapat perhatian lebih serius.
Karhutla, dengan demikian, bukan hanya persoalan hutan yang terbakar hari ini, tetapi juga soal bagaimana ekosistem dan sumber daya air bertahan setelah api padam.
Penulis: Chairunisa