- Perum Perumnas menyediakan 1.377 unit hunian subsidi perkotaan di kawasan TOD dan Kemayoran.
- Unit di Margonda dan Tanjung Barat terserap habis, serta Perumnas berencana menambah tower di Serpong.
- Pemerintah mendukung program ini melalui kebijakan harga dan KPR FLPP dengan tenor empat puluh tahun.
Suara.com - Sebanyak 1.377 unit hunian subsidi disiapkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di sejumlah kawasan perkotaan.
Hunian tersebut terdiri dari 768 unit yang berada di tiga kawasan Transit-Oriented Development (TOD) dan 609 unit di Kemayoran, Jakarta.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 768 unit hunian subsidi di kawasan TOD tersebar di Samesta Mahata Tanjung Barat sebanyak 256 unit, Samesta Mahata Margonda 182 unit, dan Samesta Mahata Serpong sebanyak 330 unit.
Sementara itu, 609 unit lainnya dikembangkan melalui Samesta Alonia Jakarta di Kemayoran dalam bentuk hunian vertikal.
Plt Direktur Utama Perum Perumnas Imelda Alini Pohan mengatakan penyediaan hunian bagi MBR di kawasan perkotaan perlu mempertimbangkan sejumlah faktor, tidak hanya harga rumah, tetapi juga akses transportasi dan jarak menuju pusat aktivitas.
“Hunian yang terjangkau bagi MBR tidak cukup hanya diukur dari harga rumah. Lokasi, akses terhadap transportasi publik, serta biaya dan waktu perjalanan sehari-hari juga menentukan keterjangkauan yang sesungguhnya,” ujar Imelda, Kamis (24/9/2026).
Dalam pengembangan kawasan TOD, Perumnas berkolaborasi dengan PT Kereta Api Indonesia untuk mengintegrasikan kawasan hunian dengan sistem transportasi publik.
Dari 768 unit subsidi yang dialokasikan di tiga kawasan TOD, hunian di Samesta Mahata Margonda dan Samesta Mahata Tanjung Barat sudah terserap habis.
Sementara itu, Perumnas berencana kembali membangun tower hunian subsidi di Samesta Mahata Serpong untuk memenuhi kebutuhan MBR.
Selain kawasan TOD, hunian subsidi juga dikembangkan di sejumlah wilayah lain, seperti Samesta Sentraland Cengkareng, Samesta Grand Sentraland Karawang, Samesta Jakabaring Palembang, Proyek Jatim II Pasuruan, dan Proyek Cirebon.
Di Jakarta, Perumnas mengembangkan Samesta Alonia Jakarta di Kemayoran dengan 609 unit hunian subsidi vertikal.
Pengembangan tersebut menjadi salah satu alternatif hunian bagi MBR di tengah keterbatasan lahan di kawasan perkotaan.
Imelda mengatakan keterjangkauan hunian bagi MBR perlu dilihat secara lebih luas, termasuk biaya transportasi, waktu perjalanan, serta akses terhadap fasilitas dan pusat kegiatan.
“Perumnas ingin agar MBR tidak selalu dihadapkan pada pilihan antara rumah yang terjangkau tetapi jauh dari pusat aktivitas, atau lokasi yang strategis tetapi tidak terjangkau. Melalui TOD, pengembangan hunian subsidi vertikal maupun landed, Perumnas berupaya menghadirkan alternatif hunian yang lebih dekat, terkoneksi dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat perkotaan,” kata Imelda.
Dari sisi pembiayaan, penyesuaian kriteria dan batasan harga satuan rumah susun melalui kebijakan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman membuka peluang bagi lebih banyak hunian untuk diakses melalui skema pembiayaan bersubsidi.
Pemerintah juga mendorong skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dengan tenor hingga 40 tahun untuk mendukung akses kepemilikan hunian pertama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Penyediaan hunian tersebut menjadi bagian dari dukungan Perumnas terhadap Program 3 Juta Rumah melalui pengembangan hunian subsidi di kawasan perkotaan dan sejumlah wilayah lainnya.