- Surya bin Samid, seorang pemilah sampah, mengalahkan petahana dalam Pilkades Mekarwangi, Kabupaten Bekasi.
- Kemenangan tersebut menunjukkan pergeseran pola politik warga desa yang tidak lagi bergantung pada kekayaan petahana.
- Sosiolog UMY Zuly Qodir menilai perubahan standar pemimpin kini lebih mengutamakan modal sosial dan etika.
Suara.com - Kemenangan Surya bin Samid, seorang pemilah sampah yang berhasil menumbangkan petahana dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Mekarwangi, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, dinilai menjadi gambaran adanya pergeseran peta sosiologi politik di tingkat akar rumput.
Kemenangan tersebut menunjukkan bahwa kekuatan finansial dan struktur kekuasaan yang selama ini menjadi modal penting dalam kontestasi politik desa tidak lagi menjadi jaminan mutlak untuk meraih kemenangan.
Sosiolog Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Zuly Qodir menilai kemenangan Surya memperlihatkan mulai bergesernya pola hubungan patron-klien di tengah masyarakat desa.
Pemilih akar rumput dinilai tidak lagi sepenuhnya bergantung pada patron yang memiliki kekayaan maupun jabatan.
"Jadi memang sekarang patron klien sudah mulai bergeser, bukan hanya kepada mereka yang punya kuasa, bukan hanya yang mereka punya duit," kata Zuly saat dihubungi Suara.com, Kamis (24/9/2026).
Menurut Zuly, perubahan tersebut tidak lepas dari kejenuhan masyarakat terhadap pola kepemimpinan yang elitis.
Kontestasi di tingkat desa selama ini kerap dipersepsikan hanya sebagai pergantian kekuasaan di antara lingkaran elite yang sama atau figur yang memiliki pengaruh kuat karena jabatan dan kekuasaannya.
Warga yang merasa tertindas atau tidak puas terhadap penguasa, kata Zuly, belum tentu memilih melakukan perlawanan secara terbuka. Mereka dapat membangun kekuatan secara diam-diam hingga menemukan momentum untuk menyampaikan sikap melalui bilik suara.
"Ini adalah perlawanan yang sifatnya hidden transcript, perlawanan yang tidak tampak tetapi dia lakukan sebagai sebuah perlawanan," tegasnya.
Perlawanan terselubung tersebut, lanjut Zuly, dapat menjadi saluran bagi warga untuk menjatuhkan pemimpin yang dinilai menyalahgunakan kekuasaan atau tidak memperhatikan nasib masyarakat.
Dalam konteks Pilkades Mekarwangi, sosok Surya yang hidup sederhana dan memiliki kedekatan sosial dengan warga dinilai menjadi wadah bagi penyaluran sikap tersebut.
Zuly juga melihat adanya perubahan standar masyarakat dalam menilai sosok pemimpin. Karisma seorang pemimpin tidak lagi semata-mata diukur dari kekayaan, jabatan, atau kekuasaan, tetapi juga dari nilai etika dan manfaat nyata yang dirasakan masyarakat.
Modal sosial yang dimiliki seorang kandidat, menurut dia, bahkan dapat menjadi kekuatan yang mengimbangi mesin politik serta modal finansial petahana.
"Patron klien sudah mulai bergeser dari orang yang punya duit, yang punya kekuasaan kepada mereka yang punya modal sosial, yang punya nilai-nilai etik yang baik," ungkapnya.
Menurut Zuly, perubahan pola tersebut tidak menutup kemungkinan berkembang ke tingkat kontestasi politik yang lebih tinggi, mulai dari pemilihan kepala daerah hingga pemilihan presiden.
Namun, dia menilai keberlanjutan fenomena tersebut turut bergantung pada sejauh mana publik dan media mengawal serta memperluas narasi mengenai perubahan politik dari akar rumput.
"Ini harus diamplifierkan secara luas, jangan hanya berhenti di satu titik atau berhenti di satu tempat saja, satu lokus tapi kemudian harus diperbanyak," ujarnya.