- Badan Gizi Nasional melaksanakan pelatihan tata kelola Program Makan Bergizi Gratis di Jepang pada September 2026.
- Pelatihan bersama JICA tersebut bertujuan mempelajari sistem penyediaan makanan sekolah serta konsep pendidikan pangan dan gizi.
- Hasil pelatihan diharapkan dapat dikaji untuk memperkaya perspektif dan relevansi pengembangan program MBG di Indonesia.
Suara.com - Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan pelatihan di Jepang untuk memperkuat fondasi tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Jepang dipilih karena dinilai telah mengembangkan program makan bergizi di sekolah selama lebih dari 100 tahun.
Menurut Deputi Sistem dan Tata Kelola BGN, Prima Yosephine Berliana Tumiur Hutapea, pengalaman Jepang yang telah berkembang selama lebih dari 100 tahun menjadi salah satu pembelajaran penting untuk memahami cara penyelenggaraan makan bagi siswa dapat ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem pendidikan.
“Pelatihan ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat secara langsung bagaimana program makan sekolah diselenggarakan di Jepang. Kami tidak hanya ingin mempelajari aspek penyediaan makanannya, tetapi juga memahami bagaimana kegiatan makan dapat terhubung dengan pendidikan pangan dan gizi bagi siswa,” ujar Prima dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (25/9/2026).
Pelatihan juga dilakukan dalam bentuk audiensi dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) yang menjadi fasilitator pelatihan.
Sementara itu, salah satu materi yang disampaikan dalam pelatihan tersebut berupa konsep shokuiku, yakni pendidikan pangan dan gizi yang dikembangkan Jepang melalui pendekatan berbasis pengalaman.
Dalam praktiknya, pendidikan pangan dan gizi tidak hanya diberikan melalui pengetahuan di dalam kelas, tetapi juga terintegrasi dengan pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui kegiatan makan bergizi di sekolah.
Menurut Prima, pembelajaran itu penting untuk memperkaya perspektif dalam pengembangan Program MBG.
“Kami berharap peserta dapat membawa pulang pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan. Tentunya tidak seluruh praktik dapat diterapkan secara langsung, tetapi esensi dan pembelajarannya dapat kita kaji untuk melihat apa yang relevan dengan kebutuhan dan karakteristik penyelenggaraan MBG di Indonesia,” ucapnya.