Berpacu dengan Waktu, Basarnas Tegaskan Operasi SAR KM Virgo Tak akan Dihentikan Sepihak

Selasa, 29 September 2026 | 12:25 WIB
Kepala Basarnas Mohammad Syafii. (Suara.com/Hiskia)
BACA 10 DETIK
  • Basarnas memastikan pencarian korban KM Virgo Transport 8 di Perairan Masalembo pada 29 September 2026 terus berlanjut.
  • Kepala Basarnas menyatakan operasi hanya akan dihentikan jika seluruh korban ditemukan atau kondisi lingkungan sepenuhnya tidak memungkinkan.
  • Tantangan utama misi penyelamatan ini adalah arus dasar laut yang ekstrem demi menjaga keselamatan personel penyelam.

Suara.com - Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memastikan operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap korban musibah terbaliknya KM Virgo Transport 8 di Perairan Masalembo, Laut Jawa, belum akan dihentikan.

Kepastian ini disampaikan Kepala Basarnas Mohammad Syafii guna menjawab kejelasan nasib puluhan penumpang yang hingga kini masih dilaporkan hilang.

Kepala Basarnas Mohammad Syafii menegaskan bahwa lembaganya tidak menetapkan batas waktu kaku yang dapat menghentikan misi pencarian korban secara sepihak.

"Operasi SAR tidak akan pernah dihentikan selama masih memungkinkan untuk bisa menemukan korban dan mengevakuasi korban," kata Syafii kepada wartawan di Yogyakarta, Selasa (29/9/2026).

Menurut Syafii, penghentian operasi pencarian baru bisa dipertimbangkan apabila terdapat dua kondisi mutlak di lapangan, yakni seluruh korban telah dievakuasi atau kondisi fisik dan lingkungan sudah sepenuhnya menghalangi pergerakan tim.

"Operasi hanya bisa dihentikan pada saat semua korban pasti sudah ditemukan atau sudah tidak memungkinkan lagi untuk melaksanakan katakanlah pengangkatan atau mungkin evakuasi terhadap korban," ujarnya.

Proses evaluasi berkala terus digelar guna meninjau perkembangan dan efektivitas operasi di lapangan. Penilaian intensif dilakukan tiap sepekan sekali bersama jajaran terkait, termasuk tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri.

"Jadi kita akan setiap 7 hari kita akan laksanakan rapat evaluasi. Dari rapat evaluasilah ada informasi-informasi yang didapat untuk diambil keputusan," tuturnya.

Diungkapkan Syafii, tantangan terbesar operasi SAR bawah air saat ini berpusat pada ekstremnya pergerakan arus dasar laut di perairan tersebut. Kecepatan arus yang melonjak tinggi menjadi pertimbangan utama Basarnas demi menjamin keselamatan para personel penyelam.

"Operasi hanya bisa dilaksanakan dengan jaminan bahwa seluruh personel yang melaksanakan operasi harus dalam kondisi aman," tegasnya.

Guna mengatasi kendala geografis dan arus bawah laut, tim gabungan berupaya memanfaatkan celah pasang surut air laut untuk melakukan penyeleman secara bertahap. Basarnas memastikan penyelaman akan langsung digencarkan tiap kali muncul indikasi keberadaan korban di dalam struktur kapal.

"Namun kalau ada tanda-tanda adanya korban yang masih memungkinkan kita evakuasi, tentunya operasi akan tetap kita laksanakan," ujarnya.

Hingga saat ini, tim SAR gabungan dari unsur Basarnas, TNI AL, hingga potensi SAR lokal masih berpacu dengan waktu untuk terus mengoptimalkan sumber daya untuk menyisir titik-titik krusial di lokasi kejadian.

"Mudah-mudahan, sekarang juga kita berpacu dengan waktu karena makin lama juga teman-teman DVI juga makin kesulitan untuk bagaimana identifikasi dari korban," tandasnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com