Kritik Pedas Berujung Dapat Jabatan, Pengamat Sebut Politik Indonesia Mudah Dikompromikan

Senin, 05 Oktober 2026 | 13:39 WIB
Rocky Gerung Datang ke Istana Jelang Pelantikan Wantimpres. (Suara.com/Novian)
BACA 10 DETIK
  • Rocky Gerung resmi dilantik sebagai Dewan Pertimbangan Presiden pada Senin, 5 Oktober 2026.
  • Pengamat Adi Prayitno menyebut kritik keras berpotensi menjadi strategi untuk menaikkan daya tawar politik jabatan.
  • Ray Rangkuti tetap konsisten memilih jalur di luar pemerintahan demi berfungsi sebagai penyeimbang kebijakan pemerintah.

Suara.com - Langkah sejumlah pengkritik politik yang mendadak melunak dan bersedia bergabung ke dalam lingkaran kekuasaan memicu kontroversi. Terbaru, Rocky Gerung dilantik sebagai Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) setelah selama bertahun-tahun dikenal lantang mengkritik pemerintah.

Fenomena ini kemudian memantik spekulasi publik bahwa sikap vokal yang selama ini dibangun bisa saja menjadi strategi untuk menarik perhatian penguasa demi mendapatkan posisi politik.

Pengamat Politik Adi Prayitno tidak menampik adanya kemungkinan motif tersebut. Menurutnya, ada pengkritik yang sengaja tampil keras demi meningkatkan daya tawar politik sebelum akhirnya menerima tawaran jabatan. Namun, hal itu sangat bergantung pada integritas masing-masing pengkritik ketika tawaran kekuasaan datang.

"Sangat mungkin (ada tendensi ingin jabatan), tapi semua tergantung pribadi kritikusnya saat ditawari jabatan, diterima atau ditolak," kata Adi kepada Suara.com, Senin (5/10/2026).

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) itu memetakan adanya tipe pengkritik pragmatis yang bersikap selektif dalam menghadapi rezim pemerintahan. Menurutnya, tipe ini bisa saja sengaja menyerang tokoh tertentu untuk meningkatkan daya tawar politik sebelum akhirnya memutuskan merapat ke dalam kekuasaan.

"Rocky ini sangat kritis ke Jokowi, dipuja pembenci Jokowi, sementara ke rezim yang lainnya tidak pernah kritis dan tak pernah kasar," ujarnya.

Gaya kritik bernada keras hingga penggunaan diksi tajam di media sosial dan platform digital, menurut Adi, bisa menjadi bagian dari strategi membangun citra agar dilirik elite kekuasaan. Namun, setelah mendapatkan posisi, kritik yang sebelumnya gencar disuarakan justru berhadapan dengan realitas kekuasaan.

"Entah karena idenya sama atau karena faktor yang lainnya. Rocky sepertinya meyakini bahwa ia bisa pengaruhi kebijakan dari dalam. Meski itu belum tentu bisa," tandasnya.

Situasi ini berbanding terbalik dengan kelompok pengkritik yang memilih konsisten berada di luar kekuasaan. Kelompok yang dianggap idealis tersebut memilih menjaga jarak dari jabatan publik demi mempertahankan peran sebagai penyeimbang kebijakan pemerintah.

"Jalan ninja kritikus semacam ini non kekuasaan sebagai penyeimbang. Contohnya Ray Rangkuti, sejak zaman Orba hingga saat ini kritis terus. Dulu sekali, infonya Ray juga pernah ditawari bergabung kekuasaan tapi nolak, milih di luar," ungkapnya.

Sorotan kemudian tertuju pada efektivitas para pengkritik setelah masuk ke jajaran pemerintahan. Narasi perubahan maupun gagasan yang selama ini disampaikan di ruang publik akan diuji ketika berhadapan dengan kompleksitas birokrasi dan struktur kekuasaan.

Adi menegaskan, kepiawaian berargumen di media massa maupun podcast tidak serta-merta menjamin keberhasilan seseorang ketika harus mengelola pemerintahan secara langsung.

"Intinya jadi pejabat publik itu tak semudah ngomong di media, YouTube, dan podcast. Struktur kekuasaan itu ada hirarki, saling berebut kepentingan, ada logika bos dan anak buah, dan lainnya," ujarnya.

Fenomena masuknya mantan pengkritik pemerintah ke dalam jajaran Wantimpres juga menunjukkan bagaimana negosiasi politik pada akhirnya dapat mempertemukan pihak-pihak yang sebelumnya berada di posisi berseberangan.

"Kalau kita bicara tentang kekuasaan dan politik di Indonesia ini segala sesuatunya itu dinegosiasikan, segala sesuatu itu sangat mudah untuk dikompromikan satu sama yang lainnya," ucapnya.

Pada akhirnya, keputusan untuk merapat ke pemerintahan menunjukkan adanya pergeseran dari sikap idealis menuju kompromi politik yang lebih realistis. Para pengkritik yang memilih masuk ke dalam kekuasaan harus bersiap bekerja sama dengan pihak-pihak yang sebelumnya kerap mereka kritik.

Fenomena tersebut juga terlihat dari keputusan Rocky Gerung yang kini masuk ke lingkaran kekuasaan.

"Tapi yang jelas ketika seseorang sudah memutuskan diri menjadi bagian dari kekuasaan politik pemerintah itu artinya memutuskan supaya dalam hidup itu ada kompromi politik, ada sesuatu yang sudah mulai realistis dikalkulasikan yaitu soal bagaimana harus bekerja sama dengan orang-orang yang selama ini sering dikritik dan mungkin sering dibully tak berkesudahan," pungkasnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com