- Kombes Pol Ferli Hidayat resmi dikukuhkan sebagai Koorspripim Polri berdasarkan Surat Telegram Kapolri pada 31 Juli 2026.
- Ferli sebelumnya dicopot dari jabatan Kapolres Malang pada 3 Oktober 2022 akibat Tragedi Kanjuruhan di Malang, Jawa Timur.
- Ia sempat meminta pertandingan Arema melawan Persebaya digelar sore hari demi keamanan sebelum tragedi terjadi.
Suara.com - Mantan Kapolres Malang Kombes Pol Ferli Hidayat resmi dikukuhkan sebagai Koordinator Staf Pribadi Pimpinan (Koorspripim) Polri.
Pengukuhan tersebut tertuang dalam Surat Telegram (ST) Kapolri Nomor ST/1585/VII/KEP./2026 tertanggal 31 Juli 2026.
Sebelum dikukuhkan secara definitif, Ferli lebih dahulu menjabat sebagai Pejabat Sementara (Ps) Koorspripim Polri.
Jabatan tersebut memiliki peran penting dalam membantu pelaksanaan tugas kedinasan dan tugas khusus Kapolri serta Wakapolri.
Menariknya, Ferli Hidayat pernah menjadi perhatian publik setelah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mencopotnya dari jabatan Kapolres Malang pada 3 Oktober 2022.
Keputusan itu diambil dua hari setelah Tragedi Kanjuruhan yang menelan banyak korban jiwa.
Tragedi tersebut terjadi seusai pertandingan Liga 1 musim 2022-2023 antara Arema FC dan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada Sabtu, 1 Oktober 2022.
Lanta apa yang dilakukan Feri Hidayat saat pecah tragedi yang menewaskan 136 orang tersebut.
Ferli Hidayat Ungkap Situasi di Pintu 13
Dalam persidangan di Pengadilan Negeri Surabaya pada Januari 2023, Ferli mengungkap bahwa dirinya menerima informasi mengenai penonton yang tergeletak dan terjepit di Pintu 13.
Setelah mendapat laporan tersebut, ia mengaku mendatangi lokasi bersama sejumlah anggota untuk memeriksa keadaan.
Ferli juga menyebut menemukan penonton yang mengalami kesakitan, memegangi mata, hingga berada dalam kondisi setengah sadar.
Berdasarkan keterangannya, personel gabungan kemudian diperintahkan untuk membantu mengevakuasi korban ke area lobi stadion.
Ferli turut menjelaskan bahwa jumlah ambulans yang tersedia saat itu terbatas, yakni sekitar empat unit.
Petugas pun berupaya memanfaatkan kendaraan lain, termasuk truk, untuk membantu proses pengangkutan korban.