- Survei CELIOS pada 11 Oktober 2026 menunjukkan harga kebutuhan pokok adalah masalah utama yang mendesak diselesaikan pemerintah.
- Sebanyak 75 persen masyarakat merasa stres akibat kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan kenaikan harga pangan dan inflasi.
- Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira menyatakan 53 persen responden menilai kondisi ekonomi rumah tangga mereka memburuk tahun ini.
Suara.com - Harga kebutuhan pokok menjadi persoalan yang paling mendesak untuk segera diselesaikan pemerintah berdasarkan hasil survei Center of Economic and Law Studies (CELIOS) bersama Kabinet Bayangan.
Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira memaparkan, sebanyak 78 persen responden menilai harga kebutuhan pokok sebagai salah satu masalah yang harus segera ditangani pemerintah. Persoalan yang sama itu juga salah salah satu penyebab 75 persen masyarakat merasa stres dengan kebijakan pemerintah saat ini.
Menurut Bhima, persoalan harga pangan juga berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Isunya yang menjadi stressing adalah harga bahan pokok, ini terkait dengan MBG juga. Ini sejalan dengan survei sebelumnya bahwa MBG menciptakan inflasi pangan, menciptakan kenaikan harga pangan. Jadi ini masih dirasakan," kata Bhima dalam Peluncuran Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran yang digelar secara virtual, Minggu (11/10/2026).
Ia juga menyoroti kondisi ketika pemerintah menyampaikan adanya surplus beras, tetapi harga beras yang dikonsumsi kelompok menengah justru mengalami kenaikan.
Setelah harga kebutuhan pokok, persoalan lapangan kerja dan perlindungan pekerja menjadi perhatian berikutnya. Sebanyak 58 persen responden menilai persoalan tersebut sebagai salah satu masalah yang perlu diperhatikan pemerintah.
Penegakan hukum dan reformasi birokrasi juga masuk dalam daftar persoalan yang menjadi perhatian masyarakat. Sementara itu, kesehatan publik berada di urutan berikutnya.
Adapun perlindungan sosial atau bantuan sosial menjadi perhatian 28 persen responden. Kemudian, sebanyak 18 persen menyoroti persoalan pendidikan, sedangkan lingkungan dan energi disebut oleh 6 persen responden.
Selain persoalan harga kebutuhan pokok dan lapangan kerja, survei CELIOS turut mengukur persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi rumah tangga dibandingkan setahun sebelumnya.
Bhima menyebut sebanyak 53 persen responden menilai kondisi ekonomi rumah tangga mereka lebih buruk dibandingkan tahun lalu.
"Pajak dan pungutan pemerintah makin memberatkan dan kondisi ekonomi rumah tangga dibandingkan setahun lalu, 53 persen menjawab lebih buruk," pungkas Bhima.