Tak Cuma Labuan Bajo, Kemenpar Kembangkan Wisata Jalan Kaki 70 Km di Flores

Selasa, 13 Oktober 2026 | 16:20 WIB
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengembangkan Camino de Flores sebagai pola perjalanan wisata baru untuk memperluas persebaran wisatawan di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
BACA 10 DETIK
  • Kementerian Pariwisata mengembangkan Camino de Flores di NTT guna meratakan kunjungan wisatawan ke luar Labuan Bajo.
  • Uji coba rute sepanjang 70 kilometer antara Bajawa hingga Ende dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026.
  • Program wisata jalan kaki ini bertujuan meningkatkan perekonomian masyarakat desa serta mendukung pemulihan pascagempa.

Suara.com - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengembangkan Camino de Flores sebagai pola perjalanan wisata baru untuk memperluas persebaran wisatawan di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Selama ini, kunjungan wisatawan masih terkonsentrasi di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.

Melalui konsep wisata jalan kaki atau walking pilgrimage, wisatawan akan diajak menyusuri jalur sepanjang sekitar 70 kilometer yang menghubungkan Bajawa, Boawae, hingga Ende. Perjalanan ini memadukan wisata alam, situs religi, budaya, dan interaksi langsung dengan masyarakat setempat.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, Camino de Flores diharapkan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di luar destinasi wisata utama Flores.

“Melalui Camino de Flores, kunjungan wisatawan diharapkan terdistribusi lebih merata ke kabupaten-kabupaten lain di daratan Flores dengan menghubungkan berbagai potensi, mulai dari situs religi, desa wisata, hingga lanskap alam serta event atau ritual pariwisata religi yang selama ini berkembang di Flores," kata Widiyanti dalam konferensi pers peluncuran Camino de Flores di Jakarta, Selasa (13/10/2026).

Pada tahap awal, Kemenpar bersama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) akan menggelar proyek percontohan atau pilot project Etape Tengah pada 23–27 Oktober 2026.

Sekitar 70 peserta dari komunitas karitatif dijadwalkan menempuh rute Bajawa–Boawae–Ende sepanjang kurang lebih 70 kilometer.

Uji coba tersebut tidak hanya bertujuan memperkenalkan destinasi, tetapi juga mengukur kesiapan teknis, operasional, dan kelembagaan sebelum Camino de Flores dikembangkan menjadi paket wisata yang dapat dipasarkan oleh agen perjalanan.

Widiyanti mengatakan, Kemenpar telah menyiapkan dokumen penilaian risiko dan rencana tanggap darurat untuk mendukung pelaksanaan perjalanan.

“Kami memastikan kesiapan infrastruktur keselamatan dan keamanan, mulai dari penyiagaan road marshal, pos kesehatan, water station mobile, hingga mitigasi cuaca dan elevasi rute yang menantang,” ujarnya.

Setelah Etape Tengah, pengembangan direncanakan berlanjut ke Etape Barat yang menghubungkan Labuan Bajo–Ruteng dan Etape Timur dengan rute Maumere–Larantuka.

Inisiator Camino de Flores, Mari Elka Pangestu, mengatakan konsep tersebut terinspirasi dari Camino de Santiago di Spanyol, jalur ziarah yang memadukan perjalanan spiritual dengan pengalaman alam dan budaya.

Konsep serupa diadaptasi untuk Flores dengan menyasar komunitas peziarah serta wisatawan yang mencari pengalaman perjalanan lebih tenang dan mendalam.

Menurut Mari, perjalanan yang dilakukan secara perlahan memberi kesempatan bagi wisatawan untuk tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya di desa-desa yang dilalui.

Peluang ekonomi itu diharapkan dapat dirasakan pengelola homestay, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perajin tenun ikat, serta pemandu wisata lokal.

“Diharapkan wisatawan tinggal lebih lama dan tentu perputaran ekonomi terjadi langsung di desa-desa yang dilalui. Inilah pariwisata yang inklusif, yang berbasis masyarakat, dan yang berkelanjutan,” ujar Mari.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com