- Warga RT 04 RW 03 Bantargebang, Bekasi, mengalami krisis air bersih akibat kerusakan sumur artesis sejak September 2026.
- Warga harus berjalan jauh membawa jeriken ke RT lain dan membeli galon isi ulang untuk memenuhi kebutuhan harian.
- Warga mengeluarkan tambahan biaya setiap hari untuk membeli air dan mendesak pemerintah agar segera memperbaiki sumur artesis.
Suara.com - Warga RT 04 RW 03, Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, kesulitan mendapatkan air bersih selama lebih dari sebulan.
Rusaknya sumur artesis yang selama ini menjadi sumber air membuat warga terpaksa mencari pasokan ke lingkungan lain hingga membeli air isi ulang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ketua komunitas pemulung sekaligus warga setempat, Apong, mengatakan gangguan tersebut telah berlangsung sejak September 2026 atau sekitar satu setengah bulan.
“Kalau hitungan itu sebulan lebih ya, sekitar sebulan setengah lah dari September,” kata Apong kepada Suara.com saat ditemui di wilayah Bantargebang, Selasa (13/10/2026).
Selama sumur artesis tak berfungsi, sebagian warga harus mengambil air dari RT tetangga. Mereka membawa jeriken dan menempuh jarak yang cukup jauh demi mendapatkan air bersih.
“Jadi paling ngambilnya dari tetangga sebelah, dari RT sebelah. Itu lumayan jauh, mereka pada bawa jeriken dan ngisi di RT sebelah, jauh juga kondisinya,” ujarnya.
Tak semua kebutuhan air bisa dipenuhi dengan cara tersebut.
Warga juga harus membeli air isi ulang untuk keperluan rumah tangga, sehingga pengeluaran harian mereka bertambah.
“Banyak jadi kebanyakan beli air isi ulang buat kebutuhan mereka,” ucapnya.
Menurut Apong, konsumsi air isi ulang sebagian warga mencapai tujuh hingga 10 galon per hari. Dengan harga Rp4.000–Rp5.000 per galon, warga harus mengeluarkan puluhan ribu rupiah setiap hari hanya untuk mendapatkan air.
“Itu sehari itu warga habis ada yang 7 galon, ada yang 10 galon, kali Rp4 ribu. Kalau kita langsung ke agennya itu biasanya Rp4 ribu sampai Rp5 ribu dalam satu hari,” tuturnya.
Kerusakan sumur artesis juga mengganggu aktivitas sehari-hari warga, mulai dari mencuci pakaian dan piring hingga mandi. Mereka berharap perbaikan segera dilakukan agar pasokan air bersih kembali normal.
“Kalau harapan dari warga itu cepat perbaiki sumurnya, jadi biar warga juga enggak kekurangan air, jangan diperlambat, lah,” pintanya.
Reporter: Agustin Dwi Anggraini