- Kementerian Dalam Negeri Azerbaijan menangkap 37 orang pada 12 Oktober karena memicu protes menentang larangan hijab sekolah.
- Resolusi Kabinet Menteri tanggal 21 September melarang tambahan pakaian yang memicu aksi demonstrasi dan penolakan siswi masuk kelas.
- Guru perempuan di beberapa sekolah mendapat tekanan untuk melepaskan penutup kepala atau segera menyerahkan surat pengunduran diri.
Aturan Seragam Sekolah Jadi Pangkal Persoalan
Kontroversi ini bermula dari Resolusi Nomor 309 Kabinet Menteri Azerbaijan yang disahkan pada 21 September.
Ketentuan tersebut melarang penggunaan tambahan pakaian yang dinilai melanggar aturan seragam sekolah dan bertentangan dengan prinsip pendidikan sekuler.
Meski dokumen itu tidak secara eksplisit menyebut hijab, sejumlah laporan dari sekolah menunjukkan bahwa ketentuan tersebut dalam praktiknya diterapkan terhadap siswi yang mengenakan penutup kepala.
Akibatnya, siswi yang tetap mengenakan hijab dilaporkan tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai dasar hukum yang digunakan pihak sekolah untuk mengeluarkan siswa dari kegiatan belajar mengajar.
Resolusi tersebut tidak secara tegas menetapkan penghentian keikutsertaan siswa dalam kelas sebagai sanksi tersendiri.
Pada 9 Oktober, Departemen Pendidikan Kota Baku mengumumkan pemeriksaan terhadap kepatuhan siswa dan guru terhadap ketentuan berpakaian.
Guru Berhijab Terancam Kehilangan Pekerjaan
Dampak kebijakan tersebut juga dirasakan oleh tenaga pengajar perempuan.
Setelah persyaratan berpakaian terpisah bagi guru disetujui pada 6 Oktober, muncul laporan mengenai tekanan terhadap guru yang mengenakan hijab.
Sejumlah guru mengatakan kepada Toplum TV bahwa beberapa sekolah di Sumgayit meminta mereka melepas hijab atau menyerahkan surat pengunduran diri.
Jurnalis Arzu Abdulla juga melaporkan situasi serupa di Sekolah Nomor 90, kawasan Ramana.
Permintaan untuk menulis surat pengunduran diri turut menimbulkan persoalan karena dapat memberikan kesan bahwa guru meninggalkan pekerjaannya secara sukarela, meskipun keputusan tersebut diduga dipengaruhi tekanan dari pihak sekolah.
Perdebatan mengenai hijab berlangsung ketika Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev menekankan pentingnya pendidikan untuk menjaga keamanan ideologis negara.
Dalam Kongres ke-8 Partai Azerbaijan Baru pada 2 Oktober, Aliyev menyampaikan, “Karena itu, kita harus melindungi diri dari provokasi ideologis. Bagaimana caranya? Pertama dan terutama, tentu saja, melalui pendidikan.”
Azerbaijan sebelumnya juga pernah menghadapi gelombang demonstrasi terkait upaya pembatasan hijab di sekolah.
Pada 6 Mei 2011, polisi membubarkan demonstrasi di luar Kementerian Pendidikan, yang kemudian diikuti penangkapan dan pembukaan perkara pidana.
Abgul Suleymanov, tokoh yang dikenal terlibat dalam protes menentang larangan hijab, ditangkap pada tahun tersebut dan kemudian dijatuhi hukuman 11 tahun penjara atas tuduhan yang dibantahnya.
Pada September 2026, Suleymanov kembali dijatuhi penahanan administratif selama 30 hari.