-
Kabut asap karhutla melumpuhkan pendapatan harian pelaku UMKM dan pekerja informal daerah.
-
Indeks kualitas udara di Sumatra dan Kalimantan berada pada level sangat berbahaya.
-
Kerugian ekonomi dan biaya kesehatan akibat karhutla diperkirakan menembus ratusan triliun rupiah.
Kementerian Kesehatan mencatat 174.694 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) terjadi selama periode Agustus hingga 21 September. Sebanyak 40.363 kasus di antaranya menyerang anak-anak balita.
Krisis ketaatan lingkungan dan pembakaran lahan secara masif di Sumatra dan Kalimantan menjadi latar belakang berulangnya bencana asap beracun ini. Paparan asap tidak hanya menimbulkan gangguan pernapasan akut dan mata, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit kronis seperti asma, stroke, hingga gangguan jantung.
Studi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) mencatat total kerugian ekonomi akibat karhutla 2026 mendekati angka Rp30 triliun. Angka kerugian tersebut melingkupi kerusakan aset lahan, gangguan jalur perdagangan, pertanian, serta industri kuliner.
Selain kerugian fisik, potensi biaya kesehatan masyarakat akibat paparan asap diperkirakan melampaui angka Rp100 triliun. Beban keuangan ini mencakup biaya pengobatan rumah sakit, hilangnya jam kerja produktif, hingga lonjakan klaim fasilitas kesehatan BPJS.