- Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan orasi ilmiah pada Dies Natalis ke-68 Universitas Padjadjaran hari Selasa.
- SBY menyatakan bahwa seorang negarawan sejati harus mengutamakan kepentingan bangsa di atas politik serta berorientasi jangka panjang.
- SBY menegaskan setiap pemimpin wajib memahami sejarah dengan baik agar tidak mengulangi kesalahan yang sama pada masa lalu.
Suara.com - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY menegaskan, Indonesia butuh banyak sosok negarawan. Tapi ia mengingatkan, tidak semua mantan presiden bisa disebut sebagai negarawan.
Dikutip dari YouTube FISIP Universitas Padjadjaran, Rabu (14/102/206), SBY menyatakan hal tersebut saat memberikan orasi ilmiah Dies Natalies ke-68 Unpad sehari sebelumnya.
SBY di atas podium orasi, mengatakan sosok negarawan yang dimaksud adalah orang-orang yang menempatkan kepentingan bangsa serta negara di atas motif politik.
Selain itu, kata dia, ciri-ciri negarawan selanjutnya adalah tidak melihat kepentingan jangka pendek, melainkan jangka panjang.
Hal itulah yang membedakan negarawan dengan politikus. Menurutnya, politikus akan berpikir kepentingan jangka pendek semisal bagaimana memenangkan pemilu.
"Kalau presiden, gubernur, wali kota, bupati, berpikir semoga terpilih kembali. Anggota DPR, DPRD, DPD pasti berpikir terpilih kembali. Itu tidak salah. itulah politisi," kata SBY.
Sementara negarawan mempunyai perspektif berbeda, yakni menempatkan kepentingan negara serta bangsa di atas politik, serta tak berpikir jangka pendek seperti memenangkan pemilu atau pilpres.
"Negarawan harus memikirkan hal-hal jauh di masa depan. Stateman itu tak harus mantan presiden. Bukan semua bisa jadi negrawan. Country over party. Country first. Jangan pula dibalik, jangan partai politik diutamakan sementara negara belakangan, wrong," kata SBY lagi menekankan.
Meski memikirkan masa depan, SBY menuturkan pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mengenal sejarah. Dengan begitu, pemimpin tersebut tak bakal mengulangi kesalahan pada masa lalu.
"Jadi, pemimpin yang tak kenal sejarah, tends to repeat the mistake of the history. Karenanya, setiap pemimpin, di mana pun, harus memahami sejarah," jelasnya.