- Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono mendoakan Presiden Prabowo Subianto agar selalu sehat saat orasi di Universitas Padjadjaran, Selasa (13/10).
- SBY menyatakan kondisi kesehatan Presiden Prabowo sangat penting karena batuk kecil pun dapat memengaruhi perekonomian nasional seperti nilai tukar rupiah.
- Kementerian Kesehatan RI mencatat 62.400 kasus ISPA akibat kebakaran hutan dan mengerahkan ribuan tenaga medis pada Rabu (14/10/2026).
Suara.com - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY mendoakan agar Presiden Prabowo Subianto tidak sakit. Sebab, bahkan bila Prabowo hanya batuk sekali pun, bisa jadi memengaruhi perekonomian nasional.
SBY saat memberikan orasi ilmiah dalam Dies Natalis ke-68 FISIP Universitas Padjadjaran, Jawa Barat, Selasa (13/10), mengakui dirinya sedang sakit batuk.
"Saya batuk, tapi bukan Influenza A, jadi aman. Jadi, kalau dalam orasi ini saya sesekali batuk, mohon dimaklumi. Kalau saya batuk, tentu yang terganggu kan orang yang di kiri dan kanan saya," kata SBY.
Meski begitu, bila dirinya batuk-batuk, bukanlah persoalan besar secara ketatanegaraan karena tak lagi menjabat sebagai presiden.
Tapi lain soal kalau yang batuk adalah Prabowo. Bila terjadi seperti itu, maka semua harus berhati-hati.
"Kalau saya batuk-batuk saat melukis, maka lukisannya akan tergores rusak. Aman, karena saya sekarang pelukis. Tapi kalau Pak Prabowo yang batuk-batuk, hati-hati," kata SBY disambut tawa hadirin.
Kenapa harus hati-hati kalau Prabowo batuk? SBY mengatakan batuk sang presiden bisa membuat harga saham dan nilai tukar rupiah anjlok.
"Kalau batuknya keras, saham dan rupiah bisa jatuh. Jadi kita doakan presiden kita tetap sehat. Supaya bisa tetap memimpin secara baik," kata dia.
Marak Kasus ISPA karena Kebakaran Hutan
Masih terkait batuk-batuk, Kementerian Kesehatan RI mencatat terdapat lonjakan pasien infeksi saluran pernapasan akut alias ISPA, terutama di daerah-daerah yang terdampak kebakaran hutan serta lahan (karhutla).
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman mengungkapkan, terdapat 62.400 kasus ISPA.
"22,5 persen di antaranya adalah anak usia 0 sampai 5 tahun," kata dia, Rabu (14/102/2026).
Muhawarman mengatakan, kasus ISPA ini menjadi fokus perhatian Kemenkes karena balita adalah kelompok rentan terhadap kabut asap.
Dia menjelaskan, partikel halus yang terdapat pada asap karhutla mampu memicu gangguan pernapasan serta memperburuk penyakit paru sebagai komorbid.
Sebagai langkah penanganan, Kemenkes RI dan pemprov-pemprov setempat sudah memobilisasi 2.106 tenaga medis serta tenaga kesehatan.
Sebanyak 2,8 juta masker juga sudah didistribusikan ke warga yang tedampak karhutla.