- Kabut asap lintas batas di Malaysia berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi bulanan hingga mencapai Rp5,8 triliun.
- Sektor pariwisata, penerbangan, pertanian, dan konstruksi mengalami gangguan aktivitas serta penurunan produktivitas yang signifikan akibat polusi.
- Biaya nasional untuk mengatasi penyakit terkait kabut asap meningkat tajam dan membebani sistem kesehatan masyarakat.
Selain itu, polusi dan jarak pandang yang buruk dapat memperlambat pengiriman barang, menghentikan sementara pekerjaan konstruksi, serta mengurangi jumlah pengunjung pusat perbelanjaan.
Biaya Kesehatan Akibat Kabut Asap Terus Meningkat
Dampak kabut asap tidak hanya dirasakan oleh dunia usaha, tetapi juga masyarakat yang terpapar polusi udara.
Spesialis kedokteran kesehatan masyarakat Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Dr Mohd Hafiz Jaafar, mengatakan biaya pengobatan langsung hanya menggambarkan sebagian kecil dari keseluruhan kerugian.
Ia menyebut biaya nasional akibat penyakit yang berkaitan dengan kabut asap meningkat dari sekitar RM21 juta pada krisis 1997 menjadi RM410 juta pada 2013.
“Angka tersebut hanya mencakup biaya medis untuk penyakit pernapasan. Kabut asap juga berdampak pada jantung dan pembuluh darah, yang belum sepenuhnya kita perhitungkan,” kata Hafiz dikutip dari Sinar Harian.
Menurutnya, paparan polusi udara dapat menambah beban sistem kesehatan sekaligus menimbulkan kerugian tidak langsung bagi perusahaan.
Pekerja yang sakit, tidak masuk kerja, atau tetap bekerja tetapi mengalami penurunan kemampuan dapat mengurangi produktivitas secara signifikan.
“Ada biaya tersembunyi, seperti karyawan yang tidak masuk kerja, karyawan yang hadir tetapi tidak dapat bekerja secara optimal, serta hilangnya produktivitas,” ujarnya.
Hafiz menegaskan bahwa kabut asap bukan semata-mata persoalan kesehatan, melainkan juga masalah ekonomi yang dapat membebani perusahaan dan negara.