- Otoritas penanggulangan bencana Nepal menyatakan banjir bandang di Distrik Gorkha pada 11 Oktober 2026 dipicu longsoran es dan batu.
- Material runtuhan pada ketinggian 6.000 meter tersebut sempat menyumbat aliran sungai hingga membentuk bendungan alami yang akhirnya jebol.
- Derasnya gelombang air menghanyutkan dua ratus rumah serta lima jembatan, dan menyebabkan lima orang dilaporkan hilang.
Suara.com - Banjir bandang yang menerjang Distrik Gorkha, Nepal, pada 11 Oktober 2026 ternyata dipicu oleh longsoran es dan batu di kawasan pegunungan tinggi.
Temuan tersebut disampaikan otoritas penanggulangan bencana Nepal pada 14 Oktober setelah melakukan analisis terhadap penyebab bencana.
Sebelumnya, banjir tersebut diduga terjadi akibat tanah longsor biasa.
Namun, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa material es dan batu yang runtuh dari kawasan dengan kondisi geologi rentan menjadi pemicu awal terbentuknya banjir bandang.
Menurut laporan kantor berita Vietnam News Agency (TTXVN), longsoran terjadi pada ketinggian sekitar 6.000 meter di atas permukaan laut.
Material yang jatuh kemudian menyumbat aliran sungai hingga akhirnya bendungan alami tersebut jebol dan memicu lonjakan air secara tiba-tiba.
Sebelum banjir besar terjadi, sejumlah longsoran kecil dilaporkan menutup aliran sungai di kawasan pegunungan.
Tumpukan tanah, batu, dan es tersebut membentuk sumbatan alami yang menahan aliran air untuk sementara waktu.
Ketika sumbatan itu jebol, air sungai Budhi Gandaki mengalir deras ke wilayah hilir.
Gelombang banjir dengan ketinggian diperkirakan mencapai 20–25 meter kemudian menerjang kawasan di sekitarnya.
Dahsyatnya arus air menghanyutkan sekitar 200 rumah dan lima jembatan. Banjir juga menyapu kawasan barak pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air di Salleri.
Otoritas setempat melaporkan lima orang hilang akibat bencana tersebut.
Besarnya dampak banjir memperlihatkan bahaya yang dapat muncul ketika longsoran di pegunungan membendung sungai dan sumbatan itu tiba-tiba runtuh.
Bencana di Gorkha terjadi kurang dari dua bulan setelah longsoran es dan batu melanda Distrik Rasuwa pada 26 Agustus.
Rangkaian kejadian tersebut kembali menyoroti besarnya risiko bencana di wilayah pegunungan Nepal.
Para ilmuwan menilai perubahan iklim menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan dalam memahami bencana di kawasan pegunungan tinggi.
Perubahan suhu dapat memengaruhi kestabilan es, salju, dan lereng, meskipun penyebab setiap kejadian tetap perlu ditentukan berdasarkan bukti ilmiah.
Dalam pidatonya di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada September, Perdana Menteri Nepal Balendra Shah menyebut bencana banjir tersebut sebagai "peringatan bagi dunia" mengenai meningkatnya bahaya akibat perubahan iklim.