Kronologi Gubernur Bali Wayan Koster Diamuk Pegawai SPBU

Jum'at, 16 Oktober 2026 | 09:12 WIB
I Wayan Koster (Instagram/@kostergubernurbali)
BACA 10 DETIK
  • Gubernur Bali I Wayan Koster beradu mulut dengan pegawai SPBU di Denpasar pada 14 Oktober 2026.
  • Kericuhan terjadi karena pegawai meluapkan kelelahan akibat kebijakan operasional 24 jam di tengah kelangkaan BBM.
  • Koster mengklarifikasi bahwa ia hanya meminta petugas tetap melayani konsumen dan mengerahkan TNI untuk pengamanan.

Suara.com - Insiden adu mulut antara Gubernur Bali I Wayan Koster dan pegawai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) terjadi pada Rabu malam, 14 Oktober 2026, di SPBU 54.801.48 yang terletak di Jalan Diponegoro, Kota Denpasar.

Saat itu, Bali tengah dilanda kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang menyebabkan antrean kendaraan mengular panjang di sejumlah SPBU, termasuk di wilayah Denpasar dan Badung.

Antrean BBM bisa mencapai ratusan meter hingga lebih dari satu kilometer, memicu kepanikan masyarakat, kelelahan warga, bahkan ada yang sampai pingsan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan agar SPBU di Denpasar dan Badung beroperasi penuh selama 24 jam.

Kebijakan ini bertujuan mempercepat pelayanan dan mengurangi antrean, namun justru menambah beban kerja bagi para operator SPBU yang jumlahnya terbatas.

Banyak SPBU hanya memiliki staf dalam jumlah kecil dengan sistem shift terbatas, sehingga perpanjangan jam operasional membuat mereka bekerja melebihi batas normal, termasuk hingga larut malam.

Kronologi Gubernur Bali Wayan Koster Adu Mulut dengan Pegawai SPBU

Pada malam itu, Gubernur Wayan Koster turun langsung ke lapangan untuk melakukan inspeksi atau sidak di SPBU tersebut di tengah antrean panjang. Di lokasi, ia meminta agar petugas tetap melayani konsumen meskipun dalam kondisi lelah.

Namun, permintaan itu memicu reaksi emosional dari beberapa pegawai perempuan yang sedang bertugas. Salah seorang operator, dengan suara bergetar dan menangis, meluapkan kekesalannya.

“Saya bukan robot, saya juga capek, Pak. Iya, saya pegawai, tapi saya punya hak juga.”

Pegawai tersebut juga menantang gubernur untuk merasakan langsung kondisi di lapangan dan meminta agar hak mereka untuk istirahat dihargai. Situasi sempat memanas, disaksikan puluhan warga yang sedang antre.

Beberapa laporan menyebutkan respons Koster yang tegas, termasuk ucapan seperti “Diam kamu” atau instruksi agar tidak mengeluh dan tetap melayani.

Video momen tersebut kemudian viral di media sosial, memicu perdebatan publik mengenai beban kerja petugas dan gaya komunikasi pejabat.

Keesokan harinya, Kamis, 15 Oktober 2026, Gubernur Wayan Koster memberikan klarifikasi terkait video yang beredar. Ia membantah adanya miskomunikasi dan menekankan bahwa dirinya hanya meminta petugas untuk tetap melayani konsumen meski lelah.

“Saya bilang jangan ngeluh, layani konsumen. Walaupun capek ya layani, enggak boleh ngerasa capek,” ujar Koster.

Ia menduga pegawai tersebut hanya meluapkan kelelahan akibat lonjakan antrean dan memastikan tidak ada masalah lebih lanjut. Koster juga menjelaskan bahwa personel TNI telah dikerahkan untuk membantu pengamanan di sekitar 50 hingga 66 SPBU pada malam hari guna mendukung operasional 24 jam.

Pihak SPBU sendiri mengakui tantangan besar, terutama karena keterbatasan tenaga kerja—beberapa operator adalah perempuan dan ada yang sedang menyusui—sehingga kebijakan mendadak tersebut terasa memberatkan.

Hingga saat ini, upaya penambahan pasokan BBM terus dilakukan, sementara pengawasan operasional SPBU tetap digalakkan agar pelayanan kembali normal tanpa mengorbankan kesejahteraan petugas.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com