Udara Jakarta Memburuk, Kasus ISPA Berpotensi Menanjak

Jum'at, 16 Oktober 2026 | 19:24 WIB
Arsip - Kabut polusi udara menyelimuti gedung-gedung tinggi di kawasan Jakarta, Kamis (10/9/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
BACA 10 DETIK
  • Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati menyatakan potensi lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut akibat buruknya kualitas udara.
  • Peningkatan kasus tersebut dipicu oleh asap kebakaran hutan dari Kalimantan yang mulai memasuki lapisan atas atmosfer wilayah Jakarta dan sekitarnya.
  • Dinas Kesehatan DKI Jakarta memperkuat pemantauan fasilitas kesehatan serta menggencarkan edukasi perilaku hidup bersih dan sehat untuk mengantisipasi lonjakan kasus.

Suara.com - Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati menyebut kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di ibu kota berpotensi meningkat seiring memburuknya kualitas udara dalam dua hingga tiga hari terakhir.

Kondisi tersebut diperparah oleh asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Kalimantan yang disebut mulai memasuki lapisan atas atmosfer Jakarta dan sekitarnya.

"Dinamika kasus ISPA di DKI Jakarta dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain kualitas udara, kondisi iklim, serta tingginya mobilitas penduduk di wilayah aglomerasi Jakarta dan sekitarnya," kata Ani dalam keterangan resminya, Jumat (16/10/2026).

Sepanjang 2026, jumlah kasus ISPA tertinggi tercatat pada Februari, kemudian menurun hingga Juni.

Kasus kembali meningkat pada periode Juli hingga September 2026. Pada September, jumlah kasus mencapai 278 ribu.

Sementara itu, jumlah kasus pada periode 1–15 Oktober tercatat sebanyak 39.320 kasus.

"Ada kemungkinan akan meningkat," tutur Ani.

Asap karhutla terdeteksi di wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat pada Jumat pagi.

Temuan tersebut terlihat dalam citra sebaran asap yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pukul 10.00 WIB.

BMKG memetakan dua kelompok sebaran asap. Asap dari Papua Selatan terpantau hingga Maluku, sedangkan asap yang mengarah ke Pulau Jawa berasal dari sekitar Kalimantan dan Sumatra.

Meski demikian, asap yang terdeteksi satelit belum tentu mencemari udara yang dihirup warga. Menurut BMKG, asap tersebut bisa saja hanya melintas di lapisan atas atmosfer.

Untuk mengantisipasi potensi lonjakan kasus, Dinas Kesehatan DKI Jakarta memperkuat pemantauan tren kasus dan kesiapsiagaan fasilitas pelayanan kesehatan.

Dinas Kesehatan juga menggencarkan edukasi pencegahan melalui penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta etika batuk.

"Gunakan masker saat sakit atau berada di lingkungan padat," pungkas Ani.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com