Soal Polisi Bunuh Polisi Karena Dugaan Bully, DPR Desak Pengusutan Tuntas dan Evaluasi Internal

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:16 WIB
Anggota Komisi III DPR RI fraksi PKS, Nasir Djamil. (Suara.com/Bagaskara)
BACA 10 DETIK
  • Nasir Djamil prihatin atas penganiayaan berat di Markas Polairud Tangsel pada Jumat 16 Oktober.
  • Bharatu Laurentius Valdo tewas setelah ditembak empat kali dan digorok oleh juniornya, Bharada Andika Rahmadani.
  • Nasir Djamil mendesak pihak kepolisian agar mengusut tuntas kasus tersebut dan mencegah aksi perundungan berulang.

Suara.com - Anggota Komisi III DPR RI, Nasir Djamil, menyampaikan keprihatinan mendalam atas tragedi berdarah yang terjadi di Markas Polairud Pondok Cabe, Tangerang Selatan, pada Jumat (16/10).

Peristiwa tragis tersebut melibatkan dugaan aksi perundungan dan penganiayaan berat hingga menewaskan Bhayangkara Satu (Bharatu) Laurentius Valdo Fernandez Lawai di tangan juniornya, Bhayangkara Dua (Bharada) Andika Rahmadani.

Menanggapi insiden memilukan di lingkungan internal Kepolisian Republik Indonesia tersebut, Nasir Djamil menegaskan keprihatinannya.

"Komisi III DPR RI prihatin dan menyayangkan peristiwa itu terjadi. Apalagi pelaku dan korban adalah anggota polisi," kata Nasir kepada wartawan, Senin (19/10/2026).

Ilustrasi jenazah. [Suara.com]

Ia pun meminta agar kasus tersebut bisa segera ditangani dan didesak agar bisa diselesaikan secara tuntas.

"Meminta agar kasus ini diusut sampai tuntas," tuturnya.

Nasir juga mengingatkan, agar pihak kepolisian diimbau untuk segera antisipasi agar perundungan seperti itu tidak terjadi lagi.

"Institusi Polri perlu fokus dalam membangun komunikasi yang sehat antara senior dan junior," katanya.

Satu Polisi Tewas

Sebelumnya, Bhayangkara Satu Laurentius Valdo Fernandez Lawai, anggota Direktorat Kepolisian Udara Korpolairud Baharkam Polri, tewas mengenaskan setelah berkali-kali ditembak junioarnya, Bhayangkara Dua Andika Rahmadani.

Peristiwa tersebut terjadi di markas Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Jumat 16 Oktober pekan lalu. Tak hanya ditembaki, Bharatu Valdo juga digorok oleh bawahannya tersebut.

"Almarhum empat kali ditembak oleh pelaku," kata Petru Bala Pattyona, pengacara keluarga Valdo, dikutip hari Senin (19/10/2026).

Petrus meyakini Andika tidak bertindak sendirian ketika menghabisi Valdo. Sebab, terdapat luka sayatan senjata tajam di leher korban.

"Lukanya banyak. Tidak mungkin satu pelaku melakukan penembakan sembari menggorok leher. Ada senjata tajam jenis sangkur dan senapan," kata dia.

Berdasarkan keterangan awal, pelaku mengakui dirinya kerap dirundung oleh Bharatu Valdo. Selain itu, ia juga kerap dianggap salah oleh seniornya itu saat bertugas.

Karena tak tahan lagi, Bharada Andika mengakui membawa golok ke markas pada Senin 12 Oktober. Alasannya, ia takut dan berusaha menjaga diri dari Bharatu Valdo.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com