-
Gelombang demonstrasi di lima negara Eropa dipicu krisis biaya hidup, perumahan, dan krisis pendidikan.
-
Bentrokan sengit di Prancis dan Albania menyebabkan ratusan polisi luka-luka serta ribuan demonstran ditangkap.
-
Kerusuhan melumpuhkan fasilitas publik di berbagai kota akibat amuk massa yang menuntut perbaikan ekonomi.
Kementerian Kesehatan Albania mengonfirmasi 35 korban luka-luka dalam bentrokan Sabtu, yang terdiri dari 18 aparat dan 17 warga sipil. Secara keseluruhan, lima hari kerusuhan di Albania telah mencederai 132 polisi.
Kepala Kepolisian Albania Skender Hita mengumumkan langkah tegas hukum terhadap ratusan peserta aksi.
Di sisi lain, Perdana Menteri Edi Rama menolak tunduk pada tekanan massa dan menuduh oposisi konservatif menunggangi kerusuhan. Rama menegaskan hak berpendapat akan dijamin, namun aksi anarki yang mengancam masa depan negara tidak akan diampuni.
Eskalasi krisis ekonomi ikut menjangkau Italia ketika polisi melepaskan gas air mata di alun-alun katedral Milan dan meriam air di Bologna. Aksi tegas penegak hukum di Bologna berakhir dengan penangkapan tujuh demonstran.
Sementara itu, puluhan ribu warga Lisbon, Portugal, menguasai jalanan untuk memprotes lonjakan krisis properti dan beban hidup. Lonjakan harga rumah hingga dua kali lipat sejak 2017 menjadi pemicu utama hilangnya keterjangkauan hunian warga.
Di Belgia, ratusan mahasiswa memblokir jalanan Brussel hingga terlibat bentrok fisik dengan polisi antihuru-hara. Para mahasiswa menolak keras reformasi biaya pendidikan tinggi yang dinilai semakin mencekik ekonomi kaum muda.
Gelombang kerusuhan serentak di lima negara ini menjadi bukti nyata kerapuhan stabilitas sosio-ekonomi Eropa pasca-krisis ekonomi berkepanjangan. Ketimpangan pendapatan yang memburuk membuat masyarakat kelas pekerja dan generasi muda berada di ambang batas kesabaran.
Sektor pendidikan dan perumahan menjadi dua area paling krusial yang memicu kegagalan sistemik di tingkat pemerintah daerah maupun pusat. Tanpa adanya intervensi kebijakan ekonomi yang konkret, amuk massa di benua biru diprediksi akan terus berulang.