- Mahasiswa dan warga Albania menggelar demonstrasi menuntut perbaikan pendidikan dan pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama di Tirana pada 13 hingga 17 Oktober 2026.
- Aksi unjuk rasa yang berpusat di depan Kementerian Pendidikan tersebut diwarnai bentrokan fisik antara demonstran dan aparat kepolisian sejak hari pertama hingga akhir pekan.
- Kementerian Kesehatan Albania melaporkan total 272 orang mengalami luka-luka akibat rangkaian demonstrasi yang melibatkan ribuan massa di ibu kota.
Suara.com - Aksi yang awalnya digerakkan mahasiswa untuk menuntut perbaikan pendidikan tinggi berkembang menjadi gerakan antipemerintah yang mendesak Perdana Menteri Edi Rama mengundurkan diri.
Dikutip dari Euronews, demonstrasi pada Selasa (13/10) berlangsung lebih dari delapan jam di Tirana.
Aksi yang berpusat di depan Kementerian Pendidikan itu berakhir dengan bentrokan antara demonstran dan polisi serta kerusakan pada bangunan pemerintah dan sejumlah tempat usaha.
Mahasiswa boikot perkuliahan
Pada Rabu (14/10), aksi berlanjut dengan melibatkan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Tirana.
Euronews Albania melaporkan mahasiswa dari fakultas kedokteran, ekonomi, hukum, dan politeknik meninggalkan ruang kuliah untuk mengikuti demonstrasi.
Aksi tersebut juga mendapat dukungan dari pelajar sekolah menengah dan warga.
Massa kembali bergerak menuju Kementerian Pendidikan, sementara sejumlah ruas jalan di ibu kota mengalami gangguan lalu lintas.
Bentrokan kembali terjadi ketika polisi berusaha mengendalikan situasi.
Media Albania melaporkan penggunaan gas air mata dan meriam air serta adanya demonstran dan petugas yang terluka.
Edi Rama didesak mundur
Memasuki Kamis (15/10), demonstrasi berkembang menjadi penentangan yang lebih luas terhadap pemerintahan Rama.
Selain menuntut perbaikan kondisi universitas, mahasiswa dan kelompok demonstran lainnya menyoroti tingginya biaya pendidikan, minimnya dukungan finansial, dan terbatasnya peluang kerja bagi anak muda.
Seruan pengunduran diri Rama turut mengemuka dalam aksi tersebut.
Gerakan mahasiswa mulai menyatu dengan mobilisasi yang dikenal sebagai Flamingo Revolution, yang sebelumnya berkaitan dengan penolakan terhadap proyek pengembangan pariwisata mewah di kawasan pesisir yang dilindungi.