Mahasiswa ULM Ungkap Kondisi Terkini Karhutla di Kalimantan, Jarak Pandang Hanya 2 Meter

Selasa, 20 Oktober 2026 | 13:10 WIB
Koalisi SADAR di Tugu Proklamasi, Jakarta. (Suara.com/Alif Bintang)
BACA 10 DETIK
  • Plt. Ketua BEM ULM Satria Bima Agata melaporkan karhutla di Kalimantan memicu gangguan aktivitas, ISPA, serta korban jiwa.
  • Satria bersama koalisi SADAR menggelar aksi di Tugu Tani, Jakarta, pada Selasa (20/10/2026) sore untuk menyampaikan aspirasi.
  • Massa aksi mendesak pemerintah menetapkan karhutla sebagai bencana nasional serta mengusut seluruh korporasi penyebab kebakaran hutan.

Suara.com - Plt. Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Satria Bima Agata, mengungkapkan kondisi terkini sejumlah wilayah di Kalimantan yang dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menurut dia, kebakaran dan asap yang ditimbulkan telah mengganggu aktivitas masyarakat, mulai dari pendidikan hingga perekonomian, selama empat bulan terakhir.

Satria mengatakan, kondisi tersebut membuat masyarakat, termasuk para pelajar, harus beraktivitas di tengah kepungan asap.

"Bagaimana pada akhirnya mau menempuh pendidikan pun di sana juga harus menerjang asap," ungkap Satria kepada wartawan di Jakarta, Selasa (20/10/2026).

Ia juga menyampaikan bahwa paparan asap karhutla dikaitkan dengan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang dialami masyarakat. Satria menyebut seorang guru dan sejumlah anak di bawah umur meninggal dunia akibat kondisi tersebut.

"Sampai akhirnya ada guru yang meninggal, dan ada balita yang meninggal, dan sangat banyak yang bagaimana terkena ISPA. Sangat miris gitu," lanjutnya.

Selain berdampak pada kesehatan, asap karhutla juga mengganggu jarak pandang pengguna jalan. Satria menyebut jarak pandang di sejumlah wilayah bervariasi, mulai dari 2 kilometer, 4 kilometer, hingga 5 kilometer.

Menurut dia, kunjungan sejumlah pejabat ke lokasi kebakaran belum menunjukkan perubahan berarti terhadap kondisi yang dihadapi masyarakat.

"Dan bagaimana mau presiden, mau wakil presiden, maupun menteri yang sering ke sana, tapi per hari ini pun tidak ada perubahan sama sekali," tegasnya.

Atas kondisi tersebut, Satria bertolak ke Jakarta untuk menyampaikan aspirasi masyarakat Kalimantan yang terdampak karhutla. Kedatangannya bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

ULM bergabung dengan koalisi Selamatkan Kedaulatan Rakyat (SADAR) bersama sejumlah kampus lainnya untuk menggelar aksi di Tugu Tani, Jakarta, pada Selasa (20/10/2026) sore.

Dalam aksi tersebut, koalisi SADAR menyampaikan lima tuntutan kepada pemerintah, yakni:

  1. Mendesak pemerintah segera menetapkan karhutla sebagai bencana nasional serta mengusut seluruh korporasi yang diduga menjadi penyebab kebakaran.
  2. Meminta pemerintah membenahi tata kelola kebijakan ekonomi nasional.
  3. Mendesak penghentian militerisasi yang dinilai mengancam supremasi sipil.
  4. Meminta pemerintah memberantas praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
  5. Mendesak penurunan biaya pendidikan agar lebih terjangkau dan inklusif.

Reporter: Alif Bintang

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com