Bawa Keranda Bertuliskan Keadilan, Mahasiswa Jayabaya Kritik Dua Tahun Prabowo-Gibran

Selasa, 20 Oktober 2026 | 22:14 WIB
Mahasiswa Universitas Jayabaya menyampaikan sejumlah tuntutan dalam aksi demonstrasi peringatan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di kawasan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (20/10/2026). [Suara.com/Agustin]
BACA 10 DETIK
  • Mahasiswa Universitas Jayabaya menggelar aksi demonstrasi di Medan Merdeka Selatan, Jakarta, pada Selasa, 20 Oktober 2026.
  • Demonstran mendesak pemerintah mewujudkan pendidikan gratis, layanan kesehatan terjangkau, serta mengevaluasi penanganan bencana karhutla.
  • Aksi diwarnai bentrokan dan pembakaran keranda jenazah sebagai simbol matinya keadilan hukum pemerintahan Prabowo-Gibran.

Suara.com - Mahasiswa Universitas Jayabaya menyuarakan sejumlah tuntutan dalam aksi demonstrasi memperingati dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Mereka mendesak pendidikan gratis, akses kesehatan yang mudah dijangkau seluruh masyarakat, serta evaluasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dalam aksi tersebut, mahasiswa juga membawa keranda bertuliskan 'keadilan' sebagai simbol kritik terhadap kondisi hukum di Indonesia.

Presiden Mahasiswa Universitas Jayabaya, Nurkharsima, mengatakan pendidikan gratis, kemudahan akses kesehatan, dan evaluasi penanganan karhutla menjadi sejumlah tuntutan utama yang mereka suarakan.

"Paling didesak yang pertama pasti pendidikan gratis juga, kita dorong akses kesehatan harus mudah diakses oleh semua kalangan masyarakat, kemudian kita mendesak juga evaluasi penanganan bencana di karhutla itu yang paling kita desak juga karena banyak jutaan nyawa yang per hari ini terancam," kata Nurkharsima kepada Suara.com di kawasan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (20/10/2026).

Selain menyuarakan tuntutan tersebut, mahasiswa membawa keranda bertuliskan 'keadilan'. Nurkharsima menjelaskan, keranda itu menjadi simbol kekecewaan mahasiswa terhadap pemerintah yang dinilai tidak peduli terhadap keadilan di Indonesia.

"Karena kita lihat bahwa pemerintah hari ini sudah tidak peduli lagi, di keranda itu kita tuliskan keadilan bahwasanya pemerintah itu tidak peduli akan keadilan di negeri ini," ujarnya.

Nurkharsima menilai keadilan hukum di Indonesia seolah hanya dapat diakses oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan. Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang mereka kritik melalui aksi demonstrasi.

"Dan lebih hukum dijadikan alat untuk pemerintah yang di mana pemerintah itu selalu terasa seperti hukum itu keadilan itu hanya dapat diakses oleh mereka-mereka yang memiliki kekuasaan saja," katanya.

Ia juga menyebut keranda tersebut sebagai simbol hadiah peringatan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Menurutnya, keranda itu menggambarkan matinya berbagai aspek kehidupan di Indonesia.

"Sebagai hadiah dua tahun Prabowo-Gibran matinya secara aspek di negeri ini," tutur Nurkharsima.

Melalui demonstrasi tersebut, mahasiswa berharap pemerintah lebih memperhatikan kondisi masyarakat secara langsung. Nurkharsima meminta pemerintah tidak hanya mengandalkan laporan dari orang-orang terdekat, tetapi juga melihat persoalan yang dihadapi rakyat.

"Dengan aksi kita kali ini pemerintah sadar dan membuka matanya untuk bagaimana melihat kondisi real bangsa ini, jangan hanya menerima laporan-laporan dari orang-orang terdekat saja tapi tidak pernah melihat rakyat ke bawah," ucapnya.

Nurkharsima mengatakan lokasi aksi di kawasan Medan Merdeka Selatan dipilih agar aspirasi mahasiswa lebih dekat dengan Istana Kepresidenan dan dapat didengar Presiden Prabowo serta Wakil Presiden Gibran.

"Agar lebih dekat kepada Presiden Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka agar lebih terdengar lah suara kita," katanya.

Berdasarkan pantauan Suara.com di lokasi, aksi mahasiswa Universitas Jayabaya sempat diwarnai gesekan dengan aparat kepolisian. Mahasiswa terlibat aksi saling dorong setelah terhalang saat berupaya mengakses jalan menuju Istana Kepresidenan.

Mahasiswa kemudian membakar keranda yang mereka bawa sebagai bentuk kekecewaan karena terhalang aparat kepolisian. Sejumlah mahasiswa juga terlihat melemparkan gelas plastik air mineral ke arah polisi.

Reporter: Agustin Dwi Anggraini

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com