- Enter Nusantara menggelar aksi damai menolak karhutla di depan gedung ASEAN Jakarta pada 21 Oktober 2026.
- Massa menggunakan headphone, mendengarkan musik, dan membawa poster sindiran guna menghindari intervensi serta serangan buzzer.
- Pendekatan santai dan menyenangkan ini bertujuan mengajak masyarakat menunjukkan solidaritas terhadap permasalahan kebakaran hutan tersebut.
Suara.com - Koalisi komunitas yang tergabung dalam Enter Nusantara menggelar aksi menyuarakan persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan cara berbeda di depan gedung Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), Jakarta.
Dalam aksi tersebut, massa menggunakan headphone untuk mendengarkan musik sambil berjoget.
Berdasarkan pantauan Suara.com di lokasi, massa aksi terlihat mengenakan headphone dan membawa poster berisi sejumlah sindiran terkait persoalan karhutla.
Mereka juga berjoget mengikuti iringan musik yang diputar melalui headphone menggunakan perangkat pemutar piringan hitam.
Aksi tersebut berlangsung tertib dan damai. Massa menyuarakan persoalan karhutla melalui pendekatan yang lebih santai tanpa mengganggu arus lalu lintas di sekitar gedung ASEAN.
Community Partnership Project Enter Nusantara, Fajar, mengatakan penggunaan headphone dan musik merupakan cara mereka mengajak masyarakat untuk sejenak beristirahat dari berbagai tekanan sehari-hari sekaligus melihat kembali persoalan yang terjadi di sekitar mereka.
Menurut dia, masyarakat kerap menghadapi berbagai kebisingan dan tekanan, sementara suara yang disampaikan kepada pemerintah juga dinilai tidak selalu didengar. Karena itu, mereka memilih pendekatan aksi yang lebih menyenangkan.
"Ya, karena gini, hari ini kita kalau kita melihat persoalan, kadang kita bersuara pemerintah juga sedikit tidak mendengarkan, terus juga dengan segala kebisingan, dengan segala kestresan yang ada warga hari ini, jadi kita mengajak masyarakat untuk sedikit rehat sejenak, kita coba relax dulu coba kita melihat sebenarnya apa yang terjadi di sekitar kita dengan aksi-aksi yang lebih fun," kata Fajar kepada Suara.com di depan gedung ASEAN, Rabu (21/10/2026).
Fajar menjelaskan, pendekatan tersebut juga dipilih untuk menghindari situasi aksi yang berujung pada saling serang.
Dia menyinggung aksi dengan cara membakar ban atau menyampaikan kemarahan secara terbuka yang menurutnya dapat memicu serangan dari buzzer hingga intervensi dari pihak negara.
"Kalau kita aksinya bakar ban atau marah-marah, biasanya nanti itu buzzer banyak yang menyerang, bahkan dari pihak negara pun banyak yang mengintervensi kita kalau aksi kita itu terlalu keras," ujarnya.
Karena itu, Enter Nusantara lebih mengedepankan cara penyampaian aspirasi yang santai dan menyenangkan.
Fajar menegaskan, hal terpenting bagi mereka adalah mengajak masyarakat menunjukkan solidaritas terhadap persoalan karhutla, bukan semata-mata menampilkan kemarahan melalui aksi demonstrasi.
"Aksinya yang lebih fun aja yang penting kita mengajak masyarakat untuk bersolidaritas dibanding aksi yang kita bakar ban atau lain sebagainya," pungkas Fajar.
Reporter: Agustin Dwi Anggraini