Karhutla Jadi Masalah Lintas Negara, Ignasius Jonan Ajak Singapura dan Malaysia Turun Tangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 10:10 WIB
Mantan Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan memberikan keterangan pers usai pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Senin (3/11/2025) malam. [Suara.com/Novian]
BACA 10 DETIK
  • Anggota Wantimpres Ignasius Jonan mengajak Indonesia, Singapura, dan Malaysia bekerja sama mengatasi karhutla pada Rabu, 21 Oktober.
  • Kolaborasi regional tersebut dapat mengacu pada ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution yang ditandatangani tanggal 10 Juni 2002.
  • Jonan menegaskan setiap negara wajib menyiapkan peralatan memadai, teknologi canggih, serta personel cukup untuk penanganan operasional.

Suara.com - Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Ignasius Jonan mengajak Indonesia, Singapura, dan Malaysia memperkuat kerja sama dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ia menilai kolaborasi lintas negara semestinya bisa dilakukan, sebagaimana kerja sama dalam pemberantasan terorisme dan perdagangan manusia.

Jonan mempertanyakan alasan penanganan karhutla belum dilakukan melalui kerja sama serupa, padahal negara-negara tersebut telah memiliki pengalaman bekerja sama dalam menghadapi berbagai kejahatan lintas negara.

“Kalau menangani human trafficking (perdagangan manusia, red.) bisa, menangani terorisme bisa, menangani perdagangan obat bius bisa bersama, kenapa ini tidak?” ujar Jonan melalui akun Instagram pribadinya @ignasius.jonan, Rabu (21/10) malam.

Pernyataan tersebut disampaikan Jonan di tengah dorongan agar penanganan karhutla melibatkan kolaborasi regional. Menurut dia, Indonesia bersama negara-negara tetangga dapat mencari solusi bersama, terutama jika kebakaran diduga mengandung unsur kesengajaan.

“Kalau ada unsur kesengajaan, coba dicari bersama, bekerja sama. Ayo tangani bersama,” katanya.

Jonan menyebut kerja sama tersebut dapat mengacu pada ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution, kerangka kerja regional yang ditandatangani pada 10 Juni 2002 dan melibatkan 10 negara ASEAN.

Menurut dia, kesepakatan tersebut menjadi landasan bagi negara-negara di kawasan untuk bekerja sama dalam menangani persoalan kabut asap lintas batas.

Ia juga mengajak Singapura dan Malaysia membangun kolaborasi dengan Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Peralatan dan Personel Harus Disiapkan

Selain mendorong kerja sama antarnegara, Jonan menekankan pentingnya kesiapan sumber daya untuk menangani karhutla. Setiap negara, menurut dia, perlu memiliki peralatan, teknologi, serta personel yang memadai.

“Setiap negara, menurut saya, harus memiliki peralatan, harus memiliki teknologi, dan harus memiliki personel yang cukup,” ujarnya.

Kesiapan tersebut dinilai penting agar kerja sama tidak berhenti pada kesepakatan, tetapi juga didukung kemampuan operasional untuk menangani kebakaran.

Dengan melibatkan negara-negara tetangga, Jonan berharap penanganan karhutla dapat dilakukan melalui upaya bersama, termasuk menelusuri kemungkinan unsur kesengajaan dan memperkuat kapasitas penanggulangan di masing-masing negara.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com