SAFEnet: Serangan Digital pada 2025 Meningkat Tiga Kali Lipat

Jum'at, 23 Oktober 2026 | 13:33 WIB
Direktur Eksekutif SAFEnet Nenden Sekar Arum. (Suara.com/Agustin)
BACA 10 DETIK
  • SAFEnet mencatat jumlah insiden serangan digital sepanjang 2025 meningkat tiga kali lipat dibandingkan 2024, terutama menyasar pekerja media serta kelompok yang bergerak di isu HAM dan demokrasi.
  • Direktur Eksekutif SAFEnet Nenden Sekar Arum menyebut pengancaman, mulai dari intimidasi kekerasan hingga pemaksaan penghapusan konten, menjadi bentuk serangan yang paling banyak ditemukan.
  • Ia mengingatkan bahwa perkembangan AI dapat mempercepat serangan digital yang jika dibiarkan berpotensi berkembang menjadi kekerasan fisik dan serangan psikososial.

Suara.com - Direktur Eksekutif SAFEnet Nenden Sekar Arum menyebut jumlah insiden serangan digital yang dihimpun organisasinya sepanjang 2025 meningkat tiga kali lipat dibandingkan 2024.

Peningkatan tersebut menjadi perhatian serius, terutama bagi pekerja media dan kelompok yang bergerak dalam isu hak asasi manusia (HAM) serta demokrasi.

“2025 ini tahun yang sangat berat sebetulnya buat teman-teman yang bekerja di ruang isu HAM dan demokrasi,” kata Nenden dalam acara Local Media Summit di Manhattan Hotel, Jakarta, Jumat (23/10/2026).

Menurut Nenden, pengancaman menjadi bentuk serangan digital yang paling banyak ditemukan sepanjang 2025. Ancaman tersebut dapat berupa intimidasi kekerasan hingga pemaksaan penghapusan konten disertai ancaman.

“Datanya di sepanjang 2025 saja yang paling banyak itu di pengancaman,” ujarnya.

Selain itu, perkembangan teknologi turut mempercepat munculnya berbagai bentuk serangan digital, termasuk melalui pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

“Belum lagi misalnya bagaimana AI juga mengakselerasi proses serangan digital tersebut,” tutur Nenden.

Ia mengingatkan bahwa ancaman di ruang digital tidak boleh dianggap sepele. Jika dibiarkan, serangan tersebut berpotensi berkembang menjadi kekerasan fisik maupun menimbulkan dampak psikososial bagi korbannya.

“Padahal kalau dibiarkan, sebetulnya itu bisa menjadi hal yang mengeskalasi pada serangan fisik atau bahkan ke serangan psikososial,” katanya.

Reporter : Agustin Dwi Anggraini 

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com