Ungguli Prabowo di Survei, KDM Berpeluang Balik Golkar dan Duet Bareng Gibran di 2029

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:54 WIB
Kolase foto Dedi Mulyadi dan Gibran Rakabuming Raka. [Suara.com]
BACA 10 DETIK
  • Survei nasional IPO pada Oktober 2026 menunjukkan elektabilitas Dedi Mulyadi unggul atas Prabowo Subianto untuk Pilpres 2029.
  • Direktur Eksekutif IPO menyatakan tingginya elektabilitas tersebut menjadi ujian politik internal bagi Partai Gerindra saat ini.
  • Dedi Mulyadi berpeluang pindah partai kembali ke Golkar atau berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka.

Suara.com - Elektabilitas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM mengungguli Presiden Prabowo Subianto dalam survei terbaru Indonesia Political Opinion (IPO) terkait peta calon presiden pada Pilpres 2029.

KDM bahkan dinilai berpeluang kembali ke Partai Golkar hingga duet dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Pilpres 2029.

Dalam simulasi pertanyaan spontan atau top of mind, KDM meraih elektabilitas tertinggi sebesar 33,7 persen. Sementara Prabowo berada di posisi kedua dengan 14,5 persen.

Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyusul di urutan ketiga dengan 11,3 persen. Berikutnya, Agus Harimurti Yudhoyono meraih 4,3 persen dan Ganjar Pranowo sebesar 4,1 persen.

Keunggulan KDM juga terlihat dalam simulasi tertutup dengan daftar nama kandidat. Ia kembali memimpin dengan elektabilitas 32 persen, jauh di atas Prabowo yang memperoleh 18,4 persen dan Anies sebesar 12,6 persen.

Survei nasional IPO tersebut menggunakan metode multistage random sampling terhadap 1.200 responden. Survei memiliki margin of error sebesar 2,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Presiden Prabowo Subianto (kedua kiri) bersama Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal (tengah) menyapa warga usai meresmikan Bendungan Meninting di Desa Bukit Tinggi, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, NTB, Jumat (10/7/2026). [ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/bar]

Dedi Mulyadi Jadi Ujian Politik Gerindra

Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah menilai tingginya elektabilitas KDM berpotensi menjadi ujian bagi Partai Gerindra. Pasalnya, KDM saat ini merupakan kader partai yang dipimpin Prabowo Subianto tersebut.

Menurutnya, Gerindra menghadapi pilihan politik, yakni mendorong KDM sebagai calon penerus Prabowo atau tetap mengusung presiden petahana untuk kembali bertarung dalam Pilpres 2029.

“Jadi nanti bergantung bagaimana diplomasi politik internal Gerindra, apakah tetap misalnya ya, menggaet Dedi Mulyadi menjadi tokoh yang dimajukan begitu ya, dengan merelakan Presiden Prabowo Subianto hanya menjadi presiden kedelapan begitu dan dilanjutkan oleh Dedi Mulyadi. Atau sebaliknya, Dedi Mulyadi mungkin yang diminta untuk mendukung Presiden Prabowo untuk melakukan pengujian pilpres satu periode lagi, kira-kira begitu,” ujarnya dalam sesi rilis hasil survei dan diskusi daring, Sabtu (24/10/2026).

Dedi menilai tingginya elektabilitas dapat memperbesar peluang seorang tokoh untuk bersaing memperebutkan kursi kepresidenan. Ia juga mengingatkan bahwa KDM memiliki ambisi politik yang tidak bisa diabaikan.

“Secara politik, saya kira semua orang yang yang yang ada dalam daftar presentasi saya ini adalah punya kemungkinan bahwa mereka semua adalah berhasrat untuk mendapatkan kekuasaan, ya tidak terkecuali dengan Dedi Mulyadi,” tuturnya.

Peluang Balik ke Golkar hingga Duet dengan Gibran

Selain dinamika internal Gerindra, peluang KDM berpindah partai juga dinilai terbuka. Dedi berpandangan, peluang pencalonan dapat menjadi pertimbangan bagi seorang politikus untuk mengubah haluan politik.

“Dedi Mulyadi selama ini bukan tipe politisi yang memang loyal terhadap parpol, dan itu umum dilakukan oleh semua tokoh partai politik. Ketika punya kesempatan bergeser partai politik dan punya kans untuk diusung, saya kira mereka pasti akan mengikuti itu,” jelas Dedi.

Ia bahkan tidak menutup kemungkinan KDM kembali ke Partai Golkar, partai yang pernah menjadi kendaraan politiknya.

Opsi lain yang turut disinggung adalah kemungkinan KDM bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2029.

“Ya termasuk Dedi Mulyadi, bukan tidak mungkin tiba-tiba dia bahkan kembali ke Golkar. Juga tidak menutup kemungkinan, atau sebagaimana yang sudah diwacanakan misalnya bergabung dengan PSI lalu tiba-tiba ada kandidasi baru Dedi Mulyadi dengan Gibran, itu juga memungkinkan,” pungkas Dedi.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com