Barack Obama Turun Gunung, Sebut Donald Trump 'Rekor Terburuk' Presiden AS

Minggu, 25 Oktober 2026 | 16:18 WIB
ARSIP-Barack Obama dan Donald Trump. [AFP]
BACA 10 DETIK
  • Mantan Presiden Barack Obama berkampanye untuk Partai Demokrat dalam pemilu sela pada tanggal 3 November mendatang.
  • Obama mengkritik kebijakan domestik Donald Trump terkait isu transparansi pemerintahan serta potensi konflik kepentingan pribadi.
  • Obama menilai kebijakan luar negeri Trump terhadap Iran berdampak negatif terhadap stabilitas pasar energi global.

Suara.com - Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama secara resmi turun ke panggung kampanye jelang Pemilu Sela (midterm elections) yang tinggal menghitung hari. Kehadiran Obama di hadapan para pendukung Partai Demokrat dimanfaatkan untuk melontarkan kritik tajam terhadap gaya kepemimpinan dan berbagai kebijakan Presiden Donald Trump.

Dalam deretan rapat akbar yang digelar di Cleveland dan Detroit, Obama mengajak para pemilih untuk menjadikan pemungutan suara pada 3 November mendatang sebagai momen krusial dalam mengimbangi kekuasaan di Kongres AS. Saat berkampanye di Michigan untuk mendukung kandidat Senat AS dari Partai Demokrat, Abdul El-Sayed, Obama mengibaratkan pemilu kali ini sebagai sebuah penjelas arah bagi akuntabilitas pemerintah.

"Kita harus mengaktifkan 'pemutus arus' (circuit breaker) tersebut untuk setidaknya menekan beberapa kecerobohan dan menghadirkan akuntabilitas ke dalam pemerintahan ini," ujar Obama di hadapan para pendukungnya.

Guna menggalang antusiasme pemilih Demokrat dalam persaingan ketat memperebutkan kursi Senat melawan kandidat Partai Republik, Mike Rogers, Obama menyampaikan serangkaian poin kritik terhadap masa jabatan Trump. Salah satu poin utama yang disinggung adalah isu transparansi dan konflik kepentingan dalam tata kelola pemerintahan.

"Kita belum pernah melihat seorang presiden yang secara terbuka bertindak demikian demi kepentingan pribadi. Kini, partai tersebut seolah-olah mewakili pemerintahan yang tidak efisien atau tidak akuntabel," tegas Presiden AS periode 2009–2017 tersebut, dikutip via Reuters.

Kritik tersebut sejalan dengan dinamika opini publik di AS. Hasil survei Reuters/Ipsos yang dirilis sebelumnya menunjukkan mayoritas responden mengekspresikan perhatian mereka terhadap potensi keterikatan antara keputusan kebijakan publik dan urusan bisnis pribadi sang presiden.

Di samping isu tata kelola domestik, Obama turut mengkritisi klaim keberhasilan administrasi Trump dalam mengatasi dinamika keamanan di Timur Tengah, khususnya terkait dengan Iran. Obama menilai ketegangan di kawasan strategis seperti Selat Hormuz justru memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas pasar energi global.

"Iran kini memiliki posisi tawar yang kuat di Selat Hormuz, jalur utama distribusi minyak dunia," tambah Obama saat memaparkan analisisnya mengenai lanskap geopolitik terkini.

Tak luput dari perhatian, Obama juga menyelipkan sindiran bernada satire terhadap jajaran kabinet serta perubahan estetika pada renovasi interior Gedung Putih, yang disambut riuh oleh para pendukung yang hadir dalam rapat umum tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan dan kritik yang disampaikan oleh mantan presiden tersebut dalam rangkaian kampanye di Michigan dan Ohio.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com