-
BEM Undira merilis video klarifikasi guna membuktikan institusinya tidak terlibat aksi deklarasi berbayar.
-
Pria beralmamater Undira mengaku bukan mahasiswa dan menerima bayaran dari panitia penyelenggara acara.
-
Penyalahgunaan atribut kampus terjadi dalam acara Deklarasi Sumpah Pemuda 2026 di Bundaran HI.
Suara.com - Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Dian Nusantara memublikasikan video klarifikasi untuk membuktikan tidak ada keterlibatan kampus mereka dalam aksi Deklarasi Sumpah Pemuda berbayar. Bukti sah tersebut mematahkan isu keterlibatan institusi setelah rekaman seorang pria beridentitas palsu beredar luas di media sosial.
Pria bernama Bayu Setiadi alias Dino itu kedapatan memakai jas almamater Undira saat berbaur dengan peserta aksi di kawasan Bundaran HI. BEM Undira bergerak cepat memfasilitasi ruang dialog untuk meluruskan pencatutan identitas kampus secara tanpa izin tersebut.
Publikasi video pengakuan ini menjadi bukti kunci yang membongkar praktik penyusupan massa bayaran demi meramaikan agenda seremonial di ibu kota. Langkah tegas organisasi mahasiswa ini sekaligus membersihkan nama baik institusi dari rekayasa dukungan publik.
"Melalui video ini, kami perwakilan Organisasi Mahasiswa Universitas Dian Nusantara menegaskan bahwa yang bersangkutan bukan merupakan bagian dari mahasiswa Universitas Dian Nusantara. Orang yang ramai diperbincangkan di media sosial sudah mengakui hal tersebut, dan atribut almamater Universitas Dian Nusantara yang ia kenakan diberikan oleh pihak penyelenggara acara tersebut," tulis BEM Undira dalam pernyataan resminya.
Dengan adanya pengakuan terbuka ini, BEM Undira memastikan bahwa kehadiran pria tersebut dalam aksi deklarasi di Bundaran HI sama sekali tidak mewakili sikap resmi mahasiswa Universitas Dian Nusantara.
Sebelumnya, Bayu Setiadi akhirnya membeberkan kenyataan sebenarnya tanpa ada tekanan dari pihak manapun. Ia menegaskan tidak memiliki ikatan akademik dengan kampus swasta tersebut.
"Saya di sini hendak mengklarifikasi bahwa saya bukan mahasiswa Universitas Dian Nusantara," ungkap Bayu.
Pengakuan tersebut sekaligus menjawab kebingungan publik saat melihat video rekaman Bayu yang gagap menjelaskan asal kampusnya. Ia bahkan sempat menyebut nama perguruan tinggi lain ketika ditanya oleh warga di lokasi acara.
Bayu membongkar bahwa kehadirannya di pusat kota murni karena mendapat imbalan uang dari panitia penyeleggara. Ia bergabung dalam barisan aksi setelah menerima tawaran pekerjaan dari sebuah komunitas.
"Saya mengikuti acara Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI pada 29 Oktober 2026 berdasarkan undangan dari komunitas dan saya dibayar," beber Bayu.
Mengenai seragam almamater yang melekat di tubuhnya, Bayu mengaku hanya menerima pakaian tersebut secara langsung di lapangan. Pihak penyelenggara membagikan atribut kampus tanpa memberikan penjelasan soal asal-usulnya.
"Mengenai almamater yang saya kenakan itu diberikan kepada saya tanpa saya ketahui asal usulnya," jelasnya.
"Mengenai almamater yang saya kenakan, itu diberikan kepada saya tanpa saya ketahui asal-usulnya," kata Bayu.
Bayu mengapresiasi penanganan dari perwakilan mahasiswa yang menyelesaikan persoalan ini secara terbuka dan aman. Ia bersyukur tidak mendapat perlakuan kasar selama proses klarifikasi berlangsung.
"Saya berterima kasih kepada rekan-rekan Ormawa Undira yang memberikan saya wadah klarifikasi tanpa mengintimidasi dan menjamin keamanan saya,"