Suara.com - Di tengah hiruk pikuk kota besar dengan jalanan yang padat dan harga bahan bakar yang seringkali bikin was-was, memiliki mobil yang lincah dan irit adalah sebuah kemewahan.
Bagi para wanita karier yang dinamis atau anak muda yang baru memulai perjalanan otomotifnya, city car menjadi jawaban paling logis.
Ukurannya yang mungil membuatnya jago selap-selip di kemacetan dan super mudah saat parkir di lahan terbatas.
Mobil city car bekas ini memiliki reputasi mesin yang bandel, konsumsi BBM yang efisien, dan tentunya, desain yang tetap sedap dipandang.
Berikut 5 rekomendasi city car bekas paling irit untuk wanita karier dan anak muda.
1. Honda Brio Satya (2016-2018)
Rasanya daftar ini tidak akan lengkap tanpa menyebut Honda Brio. Sejak awal kemunculannya, Brio langsung menjadi primadona, terutama di kalangan anak muda.
Versi facelift (2016 ke atas) menjadi pilihan terbaik karena sudah mendapatkan desain dasbor yang lebih modern dan mesin 1.2L L12 i-VTEC yang bertenaga namun tetap efisien.
Di kelasnya, Brio menawarkan sensasi berkendara yang paling menyenangkan. Handling-nya tajam dan respons mesinnya sigap, membuatnya asyik diajak bermanuver.
Baca Juga: 3 Tipe Toyota Yaris Paling Dicari Anak Muda: Bodi Mungil Kabin Lapang, Bekasnya Mulai 80 Jutaan
Mesin 1.2L-nya mampu menghasilkan tenaga 90 PS, terbesar di kelas LCGC. Meski begitu, konsumsi BBM-nya terkenal sangat irit, bisa mencapai 1:20 km/liter untuk rute luar kota.
Sebagai produk Honda, mencari bengkel resmi maupun spesialis untuk Brio sangatlah mudah. Ketersediaan spare part juga melimpah.
2. Toyota Agya / Daihatsu Ayla 1.2 (2017-2020)
Bagi Anda yang mencari pilihan paling aman, rasional, dan "tidak neko-neko", duo Agya-Ayla bermesin 1.200 cc adalah jawabannya.
Sejak tahun 2017, keduanya mendapat opsi mesin 3NR-FE 4-silinder Dual VVT-i yang jauh lebih halus dan bertenaga dibandingkan versi 1.000 cc.
Nama besar Toyota dan Daihatsu adalah jaminan. Mobil ini dirancang untuk "disiksa" di berbagai kondisi jalan dan perawatannya sangat terjangkau.
Berita Terkait
-
Bukan Manja, Ini Alasan Anak Muda Terjebak Doom Spending
-
Kritik kepada Pemerintah Bukan Berarti Sedang Mencari Pengganti Presiden
-
Bukan Malas, Ini Alasan Logis Mengapa Generasi Sekarang Sulit Punya Rumah di Usia 25
-
Generasi Tanpa Ruang Tumbuh: Tekanan Sistem yang Memaksa Anak Muda Berlari
-
60% Anak Muda Terkendala Modal Usaha
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Review Drama Love Designer, Kisah Cinta Seorang Designer dan Bos E-Commerce
-
Lampung Bersiap Transformasi dari Lumbung Mentah Jadi Raksasa Hilirisasi Pangan Nasional
-
Perkara Harga Minyak Dunia Naik, Rupiah Nyaris ke Level Rp18.000 Lagi
-
Mendagri Tito Tegaskan Kualitas Pelayanan Publik Merupakan Kunci Negara Bisa Bertahan
-
Kucing-kucingan dengan Media! Eks Jampidsus Febrie Dicecar Tim 9 Kejagung Soal Timbunan Emas 74 Kg
-
Review Lelaki-Lelaki Tanpa Perempuan: Tujuh Kisah Tentang Sepi dan Kehilangan
-
Pangeran Arab Saudi Ditemukan Meninggal Dunia di London, Darahnya Mengandung Miras dan Narkoba
-
Rizal Fadillah Bongkar Peran Pratikno di Balik Ijazah Jokowi: Penentu Sejak Rektor
-
Indosat Optimalkan Spektrum 700 MHz Perluas Jaringan 5G, Sinyal Indoor dan Fokus Wilayah Terpencil
-
Retorika Londo Ireng Prabowo Berisiko Ancam Kebebasan Pers dan Ruang Kritik