Otomotif / Mobil
Rabu, 01 Juli 2026 | 15:05 WIB
Logo Honda. [AFP]
Baca 10 detik
  • Honda dan Nissan menjalin aliansi strategis untuk mengatasi tekanan finansial akibat kerugian tahunan yang dialami pihak Honda.
  • Ketiga perusahaan otomotif berencana mengembangkan unit kontrol mesin bersama yang ditargetkan meluncur pada tahun 2029 atau 2030.
  • Upaya kolaborasi tersebut menghadapi kendala potensial karena adanya pengaruh kepemilikan saham dari Renault terhadap keputusan strategis Nissan.

Suara.com - Aliansi strategis antara Honda dan Nissan semakin mendekati kenyataan karena kedua raksasa otomotif asal Jepang ini enggan membuang waktu lebih lama. Kolaborasi tersebut dianggap sangat mendesak terutama setelah Honda baru saja mencatatkan kerugian bersih tahunan pertama dalam sejarah panjang perusahaan.

Presiden Honda Toshihiro Mibe dalam rapat umum pemegang saham di Jepang mengungkapkan bahwa pembicaraan kerja sama dengan Nissan sudah cukup jauh dan beberapa aspek hampir siap untuk diumumkan.

Pernyataan tersebut muncul sebagai upaya untuk meredakan kekhawatiran para investor terhadap stabilitas dan performa finansial perusahaan di masa depan.

Salah satu fokus utama dari kemitraan ini adalah pengembangan ECU (Engine Control Unit) bersama yang akan berfungsi sebagai otak pusat kendaraan. Langkah ini kabarnya juga akan melibatkan Mitsubishi untuk diaplikasikan pada berbagai model mobil termasuk tipe hibrida dan kendaraan listrik. ECU bersama tersebut diproyeksikan mulai masuk ke pasar sekitar tahun 2029 atau 2030 sebagai fondasi awal bagi kolaborasi teknologi yang lebih luas.

"Honda menjalankan setiap proyek dengan pendekatan saling menguntungkan." Jika sistem kontrol utama ini berhasil disatukan maka integrasi teknologi antar ketiga merek tersebut akan menjadi jauh lebih mudah serta efisien dalam hal biaya pengembangan," ungkap Mibe dikutip Rabu (1/7/2026).

Namun langkah ambisius ini menghadapi ganjalan besar dari Renault. Pabrikan asal Prancis tersebut masih memegang 15 persen saham suara di Nissan yang memungkinkan mereka memberikan pengaruh signifikan terhadap berbagai keputusan strategis. Renault dilaporkan mulai memengaruhi suara pemegang saham yang berpotensi menghambat aliansi modal penting antara Honda dan Nissan.

Kebutuhan Honda akan kemitraan erat ini sangat krusial mengingat perusahaan sedang dalam tekanan finansial yang berat. Honda mencatatkan kerugian sebesar 423,9 miliar yen atau sekitar 2,62 miliar dolar AS pada tahun fiskal yang berakhir Maret lalu.

"Jika Honda tidak mampu mengalahkan kekuatan-kekuatan baru dalam tiga tahun, bisnis kendaraan roda empat kami akan mengalami masalah," pungkas Mibe.

Kondisi ini memaksa Honda untuk segera mencari jalan keluar melalui sinergi dengan Nissan dan Mitsubishi demi bertahan dari gempuran kompetitor baru di pasar global.

Baca Juga: 2 Motor Listrik Alternatif Scoopy dan Vespa: Nggak Mikir Oli Mahal, Idola Pelajar dan Pekerja

Load More